A Normal Woman: Psikodrama Intens yang Mengungkap Mitos Kesempurnaan Perempuan
Film A Normal Woman tayang di Netflix Indonesia dengan kisah penuh ketegangan psikologis dan transformasi perempuan bernama Milla. Disutradarai Lucky Kuswandi, film ini bongkar mitos kesempurnaan lewat sinematografi intens dan kritik sosial tajam.
Showbizline – Netflix Indonesia kembali menghadirkan karya lokal yang menggugah lewat film A Normal Woman garapan sutradara Lucky Kuswandi.
Film bergenre drama-thriller psikologis ini tayang perdana pada 24 Juli 2025 dan langsung mencuri perhatian dengan narasi tentang identitas, tekanan sosial, dan tubuh perempuan yang “berkhianat.”
Sinopsis Film A Normal Woman
Cerita berpusat pada Milla (diperankan oleh Marissa Anita), seorang sosialita usia 36 tahun yang hidup dalam balutan kemewahan: rumah megah, keluarga harmonis, dan status sosial tinggi.
Namun di balik citra sempurna, Milla mulai merasakan tubuhnya berubah secara misterius. Ia merasa seperti dililit penyakit tak terdiagnosis yang membuatnya meragukan jati diri dan kewarasannya.
Perjalanan Milla untuk memahami apa yang terjadi padanya membawa penonton ke kedalaman psikologis seorang perempuan yang bergelut antara harapan dan realita.
Kecurigaan mulai muncul terhadap sikap keluarga dan kerabat yang seolah tidak peduli. Sebaliknya, mereka justru mengabaikan dan meremehkan pergulatan mental Milla.
Bagian Paling Menarik
Bagian paling intens dari film ini adalah transformasi Milla—dari perempuan ideal menuju “pemulihan yang tidak lagi murni”.
Film ini menyajikan disintegrasi identitas yang menyakitkan, namun jujur. Dikutip dari Rotten Tomatoes, perjalanan Milla digambarkan sebagai “sabotase terhadap mitos kesempurnaan,” simbol resistensi terhadap tuntutan norma feminin yang tidak realistis.
Daftar Pemain dan Karakter Utama

Film ini diperkuat oleh jajaran aktor papan atas Indonesia:
Marissa Anita sebagai Milla
Dion Wiyoko sebagai Jonathan
Gisella Anastasia sebagai Erika
Widyawati sebagai Liliana
Mima Shafa sebagai Angel
Hatta Rahandy
Aida Nurmala
Maya Hasan
Setiap karakter memiliki lapisan konflik dan representasi sosial tersendiri, membentuk ekosistem psikologis yang merespon perubahan Milla.
Nuansa Visual dan Kritik Sosial

Lucky Kuswandi menghadirkan atmosfer visual yang kontemplatif dengan dominasi palet abu dan monokrom untuk mendukung kondisi mental sang tokoh utama.
Elemen thriller medis digabungkan dengan narasi emosional, memunculkan ketegangan yang tidak hanya fisik, tapi juga eksistensial.
Film ini juga dipandang sebagai kritik sosial terhadap cara masyarakat memaknai perempuan: norma, tubuh, dan kewajiban untuk tampil “normal”.
Dalam wawancara terpisah, Lucky mengatakan bahwa “normal” dalam film ini bersifat subyektif dan sering kali menjadi alat pembungkaman.















