Fenomena Rojali dan Rohana: Antara Tren Sosial, Dampak, dan Bedanya dengan Window Shopping
Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) kini memasuki babak baru. Di era media sosial, perilaku ini tidak hanya terjadi di bazar, tetapi juga di mall untuk foto-foto dan pamer konten. Apa dampaknya bagi bisnis dan bagaimana membedakannya dengan window shopping?
Showbizline – Istilah Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) awalnya populer di media sosial untuk menggambarkan pengunjung pameran atau bazar yang banyak mencoba produk, bertanya detail, bahkan menghabiskan tester, tetapi tidak melakukan pembelian. Fenomena ini terasa berat bagi pelaku UMKM yang modalnya terbatas.
Namun kini, fenomena serupa mulai dikeluhkan oleh karyawan retail di mall besar. Banyak dari SPG atau staf toko menyebut, tak sedikit pengunjung datang hanya untuk berfoto, membuat konten media sosial, atau bertanya-tanya tentang produk mahal—tetapi tidak ada niat membeli. Jumlahnya bahkan disebut “kadang banyak banget”.
Dimensi Baru: Aura Media Sosial
Jika sebelumnya motivasi Rojali lebih pada rasa penasaran atau keterbatasan daya beli, di era digital muncul motivasi lain: pamer gaya hidup di media sosial.
Mereka memanfaatkan suasana mall yang estetik untuk membuat konten, mencoba tester kosmetik atau fesyen, lalu mengunggahnya di Instagram atau TikTok.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip oleh Republika, fenomena Rojali tidak selalu menunjukkan kemiskinan, tetapi bisa menjadi indikasi pergeseran pola konsumsi.
Masyarakat urban lebih mengutamakan “pengalaman” dan “citra online” dibanding transaksi langsung.
Dampak Sosial dan Ekonomi

Bagi pelaku UMKM dan bazar kecil:
Kehadiran Rojali/Rohana berpengaruh langsung pada omzet.
Stok tester habis lebih cepat, tenaga penjual terkuras, dan potensi melayani pembeli serius berkurang.
Bagi retail besar di mall:
Mereka umumnya sudah menghitung bahwa sebagian besar pengunjung hanya melihat-lihat.
Namun, jika tren foto-foto tanpa belanja meningkat, bisa mengganggu pengalaman belanja pembeli yang serius dan membuat beban kerja staf lebih tinggi.
Bagi sosial budaya:
Muncul tekanan gaya hidup: seolah harus tampil “mampu” di media sosial, meski hanya sekadar berfoto dengan barang mewah.
Ada potensi menurunnya nilai interaksi “belanja” menjadi sekadar aktivitas konten.
Mengapa Tidak Sama dengan Window Shopping?

Window shopping adalah aktivitas melihat-lihat produk tanpa membeli, yang sudah lama menjadi bagian normal dalam ekosistem mall.
Toko besar dan brand internasional memang mengantisipasi banyak pengunjung yang hanya datang untuk melihat.
Sebaliknya, Rojali versi era sekarang sering melibatkan interaksi intens dengan staf, mencoba banyak produk, bahkan membuat konten di area display, yang membutuhkan sumber daya lebih dari pihak toko.
Berbeda Dampak
Ini menjadikannya berbeda secara dampak. Bicara Window Shopping biasa, biasanya hanya melihat-lihat produk, minim interaksi sehingga memiliki dampak ringan pada staf atau karyawan toko.
Window shopping seperti di mall ini merupakan sebuah budaya modern yang sudah diantisipasi oleh brand besar atau ritel modern. Karena mal dirancang untuk banyak pengunjung, yang beli atau tidak.
Sementara Rojali dan Rohana di era sekarang ini lebih banyak yang memberikan dampak tak kecil. Mereka yang banyak bertanya, mencoba produk, namun tidak mau melakukan transaksi pembelian, tentunya menguras tenaga dan waktu staf atau keryawan toko.
Lebih-lebih ketika para Rojali dan Rohana ini hanya berkepentingan memuat konen, atau pamer i media sosial. Perilaku ini bisa dianggap mulai mengganggu.
Harus Bisa Menempatkan Diri
Fenomena Rojali dan Rohana kini tidak lagi terbatas pada bazar kecil. Di era media sosial, mereka juga hadir di mall besar dengan pola baru: datang, foto, update status, bertanya, tetapi tidak membeli.
BPS menegaskan bahwa tren ini tidak otomatis menandakan kemiskinan, tetapi tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi dinamika ekonomi retail dan menambah beban bagi staf penjualan.
Di sisi lain, publik perlu menyadari bahwa aktivitas di mall bukan hanya soal konten, tetapi juga menghargai waktu dan kerja orang lain.





















