Home Feature & Community Toxic Productivity, Penyebab dan Dampaknya Bagi Diri juga Rekan Kerja
Feature & Community

Toxic Productivity, Penyebab dan Dampaknya Bagi Diri juga Rekan Kerja

Toxic productivity bukan sekadar rajin bekerja atau memiliki etos kerja tinggi. Lebih dari itu, ia adalah dorongan kompulsif untuk selalu produktif, seolah tidak ada ruang bagi istirahat maupun aktivitas personal.

Iluistrasi Toxic Productivity

Showbizline – Di tengah budaya kerja modern yang serba cepat, istilah toxic productivity semakin sering terdengar.

Awalnya, produktivitas selalu dipandang sebagai sesuatu yang positif, bahkan dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan seseorang.

Namun, ketika keinginan untuk terus bekerja tidak pernah berhenti, dan istirahat dianggap sebagai kesalahan, produktivitas bisa berubah menjadi racun. Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan toxic productivity.

Banyak pekerja kantoran, freelancer, maupun pelaku bisnis merasakan tekanan ini. Ada rasa bersalah setiap kali tidak membuka laptop, rasa takut tertinggal jika tidak segera merespons pesan kerja, hingga keyakinan bahwa nilai diri hanya diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang diselesaikan.

Alih-alih memotivasi, kondisi ini justru menimbulkan kecemasan, kelelahan, bahkan masalah kesehatan serius.

Memahami Apa Itu Toxic Productivity

Ketika keinginan untuk terus bekerja tidak pernah berhenti, dan istirahat dianggap sebagai kesalahan, produktivitas bisa berubah menjadi racun.
Iluistrasi Toxic Productivity

Toxic productivity bukan sekadar rajin bekerja atau memiliki etos kerja tinggi. Lebih dari itu, ia adalah dorongan kompulsif untuk selalu produktif, seolah tidak ada ruang bagi istirahat maupun aktivitas personal.

Menurut Harvard Health Publishing, kondisi ini dapat membuat seseorang merasa bersalah hanya karena meluangkan waktu untuk beristirahat, sehingga akhirnya terus memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang “bermanfaat” setiap saat. Akibatnya, hidup sehari-hari kehilangan keseimbangan.

Fenomena ini semakin terasa sejak maraknya budaya hustle di media sosial. Orang sering membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain yang tampak luar biasa, sehingga muncul tekanan untuk tidak pernah berhenti bekerja.

Ditambah lagi dengan pola kerja jarak jauh, batas antara jam kerja dan waktu pribadi semakin kabur.

Email bisa datang kapan saja, pesan dari atasan bisa muncul di malam hari, dan banyak orang merasa tidak enak jika tidak segera merespons. Semua ini perlahan membentuk pola toxic productivity.

Penyebab Munculnya Toxic Productivity

Ada berbagai faktor yang membuat seseorang terjebak dalam toxic productivity. Salah satunya adalah pengaruh budaya yang mengagungkan kesibukan.

Dalam banyak konteks, orang yang sibuk sering dianggap sukses, sementara mereka yang santai dicap pemalas.

Nilai sosial seperti ini mendorong orang untuk terus bekerja, meskipun sebenarnya tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat.

Selain itu, ketakutan tertinggal atau fear of missing out (FOMO) juga memperkuat fenomena ini. Rasa takut kehilangan peluang, baik promosi jabatan maupun proyek baru, membuat orang rela mengorbankan waktu pribadi demi tetap berada di jalur karier.

Media sosial turut memperburuk keadaan, karena setiap hari orang disuguhi cerita pencapaian orang lain yang tampak menginspirasi, tetapi sekaligus menekan.

Budaya perusahaan juga memainkan peran besar. Lingkungan kerja yang menyanjung jam kerja panjang atau memandang karyawan yang lembur sebagai teladan, tanpa sadar menanamkan standar tidak sehat.

Dalam jangka panjang, kebijakan seperti ini mendorong karyawan untuk merasa tidak cukup jika hanya bekerja sesuai jam normal.

Tak kalah penting, faktor internal seperti perfeksionisme ikut mendorong toxic productivity.

Orang yang selalu ingin sempurna merasa hasil pekerjaannya tidak pernah cukup baik, sehingga terus menambah jam kerja dan menolak beristirahat.

Semua kombinasi ini menjadikan toxic productivity sulit dihindari jika tidak disadari sejak awal.

Dampak Bagi Diri Sendiri

Konsekuensi pertama dan paling terasa dari toxic productivity adalah munculnya burnout. Rasa lelah fisik bercampur kelelahan emosional membuat pekerjaan yang dulu terasa menyenangkan kini justru menekan.

Harvard Health mencatat bahwa dalam kondisi ini, kepuasan kerja menurun drastis, kreativitas menurun, dan motivasi perlahan menghilang.

Kesehatan mental juga sangat terdampak. Rasa cemas, insomnia, bahkan depresi kerap muncul karena pikiran terus dipenuhi tuntutan untuk produktif.

Ironisnya, dorongan berlebihan ini justru menurunkan produktivitas. Alih-alih menyelesaikan banyak hal, seseorang bisa menjadi lebih sering melakukan kesalahan, lambat dalam berpikir, dan kehilangan fokus.

Tak hanya mental, kesehatan fisik pun berisiko terganggu. Kurang tidur, pola makan tidak teratur, serta minim olahraga adalah efek domino dari toxic productivity.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau masalah jantung.

Dampak Bagi Rekan Kerja dan Lingkungan Tim

Toxic productivity bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga berpengaruh besar pada lingkungan kerja. Seorang karyawan yang terus memaksakan diri bekerja tanpa henti bisa menciptakan standar tidak realistis di mata rekan-rekannya.

Mereka yang bekerja sesuai kapasitas normal bisa merasa tertinggal, sehingga muncul perasaan tertekan untuk ikut-ikutan lembur atau menambah beban kerja.

Situasi seperti ini lama-kelamaan menciptakan atmosfer kerja yang tegang. Alih-alih saling mendukung, rekan kerja justru bisa merasa bersaing secara tidak sehat.

Penelitian yang dimuat di Journal of Applied Psychology menunjukkan bahwa toxic behavior dalam tim dapat menular, membuat lebih banyak anggota tim terjebak dalam pola serupa.

Akhirnya, bukan produktivitas tim yang meningkat, melainkan stres kolektif yang bertambah.

Tak jarang, hubungan antarrekan kerja menjadi renggang karena kelelahan emosional. Komunikasi bisa menjadi singkat, dingin, atau penuh konflik kecil yang sebelumnya tidak ada.

Dalam jangka panjang, hal ini membuat keterlibatan karyawan menurun, turnover meningkat, dan organisasi kehilangan potensi terbaiknya.

Cara Mengatasi dan Mencegah Toxic Productivity

Menghindari jebakan toxic productivity bukan perkara mudah, terutama ketika budaya kerja dan ekspektasi sosial sudah terbentuk begitu kuat.

Namun, ada beberapa langkah praktis yang bisa membantu. Salah satunya adalah memasang batasan kerja yang jelas.

Menentukan jam kerja dan benar-benar berhenti setelahnya adalah langkah awal yang efektif. Mematikan notifikasi pekerjaan di malam hari bisa membantu pikiran benar-benar beristirahat.

Selain itu, penting untuk mengubah cara pandang terhadap produktivitas. Produktif bukan berarti sibuk tanpa henti, tetapi mampu menghasilkan sesuatu dengan efektif dan tetap menjaga kesehatan. Fokus pada kualitas pekerjaan, bukan hanya kuantitas, akan membantu menyeimbangkan hidup.

Perusahaan dan manajemen juga memegang peran penting. Mereka perlu menumbuhkan budaya kerja sehat, di mana kesejahteraan karyawan menjadi prioritas, bukan hanya target angka semata.

Apresiasi terhadap hasil kerja yang cerdas, fleksibilitas jam kerja, serta program kesehatan mental bisa menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan semua pihak.

Menutup dengan Refleksi

Toxic productivity mengingatkan kita bahwa produktivitas yang berlebihan bisa sama berbahayanya dengan kemalasan. Keseimbangan antara kerja, istirahat, dan kehidupan pribadi adalah kunci agar produktivitas tetap sehat.

Dengan menyadari penyebabnya, memahami dampaknya, dan berkomitmen untuk menata ulang pola kerja, kita bisa keluar dari lingkaran yang merugikan ini.

Pada akhirnya, bekerja keras memang penting, tetapi menjaga diri sendiri jauh lebih penting.

Sebab, produktivitas sejati bukan hanya soal apa yang kita hasilkan, melainkan juga bagaimana kita tetap sehat dan bahagia saat melakukannya.

Previously

Ari Lasso Bawa Polemik Royalti ke DPR: Audit WAMI, Sindiran Tajam, dan Pembatalan Pertemuan

Next

Rumah Tangga Eva Celia dan Demas Narawangsa Disorot Publik, Ini Perkaranya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement