Bebas Tanpa Batas pada Permissive Parenting, Benarkah Bikin Anak Impulsif dan Mental Lemah?
Permissive parenting atau pola asuh permisif dikenal penuh kasih sayang tapi longgar dalam aturan. Namun, penelitian menunjukkan gaya ini bisa berdampak buruk bagi generasi muda: impulsif, sulit mengendalikan emosi, hingga rentan adiksi.
Showbizline – Pola asuh orang tua sangat menentukan arah tumbuh kembang anak. Dalam teori psikologi perkembangan, ada empat gaya asuh klasik yang diperkenalkan Diana Baumrind: authoritative, authoritarian, neglectful, dan permissive.
Dari keempatnya, permissive parenting sering dipandang sebagai pola yang “ramah” namun berisiko.
Permissive parenting atau pola asuh permisif adalah gaya di mana orang tua hangat dan penuh kasih, tapi minim aturan dan batasan.
Anak diberi kebebasan hampir tanpa pengawasan, dengan alasan agar ia bisa berkembang secara alami. Sekilas terdengar ideal, tetapi apa jadinya jika anak tumbuh tanpa batasan jelas?
Ciri-Ciri Permissive Parenting
Psikolog menggambarkan orang tua permisif sebagai sosok yang sangat responsif pada kebutuhan anak, jarang memberi aturan atau konsekuensi tegas, menghindari konflik dengan anak, dan membiarkan anak menentukan keputusan besar sejak dini.
Hubungan orang tua-anak biasanya dekat, tetapi kurang struktur. Menurut Verywell Mind, pola ini sering berujung pada masalah kontrol diri anak.
Anak dari orang tua permisif mungkin kesulitan mengikuti aturan, mereka sering impulsif, kurang disiplin, dan bisa memiliki masalah dengan otoritas.
Efek Buruk pada Generasi Muda
1. Impulsivitas dan Regulasi Emosi
Ketiadaan aturan membuat anak kurang belajar mengelola frustrasi. Studi dalam Asian Journal of Education and Social Studies menegaskan bahwa pola permisif berkorelasi dengan emotional dysregulation, dimana anak jadi lebih impulsif, mudah marah, dan sulit mengendalikan stres.
Penelitian di Tiongkok juga memperkuat hal ini. Artikel di BMC Public Health (2021) menyebut impulsivitas memediasi hubungan antara gaya asuh (termasuk permisif) dan perilaku menyakiti diri sendiri pada remaja.
Artinya, anak dari keluarga permisif lebih berisiko mengambil keputusan ekstrem ketika emosi tidak terkendali.
2. Kenakalan Remaja dan Perilaku Disruptif
Beberapa penelitian di Indonesia menemukan korelasi nyata antara permissive parenting dan perilaku menyimpang remaja.
Studi di Yogyakarta menunjukkan bahwa pola permisif bersama tekanan teman sebaya meningkatkan risiko perilaku disruptif di sekolah.
Walau pengaruh teman sebaya lebih besar, gaya asuh permisif tetap punya kontribusi signifikan.
Penelitian lain di Sidoarjo juga menyimpulkan bahwa semakin permisif gaya orang tua, semakin tinggi potensi kenakalan remaja seperti bolos, melawan aturan sekolah, hingga perilaku agresif.
3. Adiksi Gadget dan Game Online
Di era digital, permisif parenting bisa membuka pintu pada masalah baru, kecanduan gadget. Studi dari Universitas Mulawarman menemukan hubungan antara pola asuh permisif dengan adiksi gadget pada generasi Alpha.
Orang tua yang longgar tidak memberi batas waktu bermain, sehingga anak tenggelam dalam gawai lebih lama.
Penelitian lain menyebutkan permisif parenting juga berkaitan dengan kecenderungan game online addiction. Tanpa kontrol, anak kesulitan menyeimbangkan waktu belajar, tidur, dan interaksi sosial.
4. Mental Lemah dan Kurang Tangguh
Istilah “mental lemah” bukan istilah klinis, tetapi bisa dilihat dari manifestasi nyata seperti kesulitan menghadapi tekanan, kurang percaya diri mengambil keputusan, serta mudah menyerah ketika gagal.
Psikolog mengaitkan hal ini dengan minimnya pengalaman anak menghadapi konsekuensi nyata. Karena orang tua permisif jarang menegakkan aturan, anak kurang terlatih menanggung akibat dari tindakannya.
Alhasil, di kemudian hari ia lebih rapuh ketika menghadapi realitas sosial yang penuh batasan.
Haruskah Permissive Parenting Dihindari?
Tentu saja tidak bisa dipukul rata. Ada sisi positif dari permissive parenting, anak merasa dicintai tanpa syarat, hubungan dengan orang tua hangat, dan bebas mengekspresikan diri. Namun, risikonya terlalu besar jika tanpa batas sama sekali.
Kebanyakan ahli sepakat bahwa authoritative parenting adalah pola terbaik, hangat dan responsif seperti permissive, tapi dengan aturan yang jelas dan konsisten.
Dengan cara ini, anak tetap merasa dicintai, namun juga belajar disiplin, tanggung jawab, dan ketangguhan mental.
Dunia Butuh Batasan
Generasi muda memang membutuhkan ruang bebas untuk bereksplorasi. Namun, kebebasan tanpa aturan justru bisa menjadi jebakan.
Penelitian sudah menunjukkan bahwa permissive parenting dapat melahirkan anak yang impulsif, sulit mengendalikan diri, rentan adiksi, dan memiliki daya juang lemah.
Dunia nyata selalu penuh batasan. Anak-anak perlu dibimbing untuk siap menghadapi itu, bukan hanya dibiarkan bebas.
Pola asuh yang seimbang — penuh cinta sekaligus aturan — adalah kunci untuk mencetak generasi yang sehat, tangguh, dan siap menghadapi tantangan hidup.





















