Wellbeing di Dunia Kerja: Ketika Keseimbangan Hidup Jadi Prioritas, Bisakah?
Kesejahteraan (wellbeing) di tempat kerja tak lagi dianggap sebagai bonus, melainkan menjadi kebutuhan fundamental.
Showbizline – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja mengalami pergeseran paradigma yang cukup besar. Setelah pandemi COVID-19, banyak pekerja mulai mempertanyakan prioritasnya.
Bukan hanya soal gaji dan jenjang karier, tetapi juga keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan fleksibilitas waktu. Kesejahteraan (wellbeing) di tempat kerja tak lagi dianggap sebagai bonus, melainkan menjadi kebutuhan fundamental.
Perusahaan-perusahaan di berbagai negara mulai bereksperimen dengan model kerja baru, kebijakan kesejahteraan, dan pendekatan yang lebih manusiawi.
Mereka menemukan bahwa ketika pekerja merasa dihargai, punya ruang pribadi cukup, dan tidak tertekan dengan overwork, produktivitas dan loyalitas bisa meningkat secara signifikan.
Di sisi lain, tenaga kerja yang stress, burnout, atau tidak punya waktu istirahat yang cukup banyak menunjukkan performa dan kesehatan yang jauh lebih lemah.
Uji Coba 4-Day Workweek, Negara & Perusahaan yang Mulai Bertindak
Salah satu tren paling menarik dalam wellbeing kerja sekarang ialah penerapan pekan kerja empat hari (4-day workweek).
Di negara-negara seperti Islandia, Spanyol, Jepang, dan Belgia, sudah ada uji coba dan regulasi yang memungkinkan pekerja bekerja lebih pendek tanpa kehilangan penghasilan.
Islandia menjalankan tes besar dari tahun 2015 hingga 2019 di sektor publik, di mana pegawai bekerja 35-36 jam seminggu dibandingkan 40 jam biasa, tanpa pengurangan gaji.
Hasilnya mencatat penurunan stres dan peningkatan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Belgia menjadi negara pertama di Eropa yang memberikan hak bagi pekerja untuk mengajukan pekan kerja empat hari tanpa kehilangan gaji mulai musim gugur tahun 2022.
Kebijakan ini tidak memaksa, tapi memberi fleksibilitas ke pekerja dalam memilih apakah ingin kerja empat hari atau lima hari per pekan.
Sebagai contoh perusahaan, Microsoft Jepang melakukan uji coba “Work Life Choice Challenge” pada bulan Agustus 2019, menutup kantor setiap hari Jumat selama sebulan, dan melaporkan peningkatan produktivitas sebesar 40%—sambil menunjukkan bahwa karyawan merasa lebih puas dengan work-life balance mereka.
Efek Positif Terhadap Kesehatan Mental & Produktivitas
Ketika perusahaan dan pemerintah memberi ruang bagi pekerja untuk lebih beristirahat, hasilnya tak hanya soal kebahagiaan; ada dampak nyata terhadap kesehatan mental dan kinerja.
Dalam uji coba-uji coba 4-day workweek, banyak pelaporan bahwa absensi menurun, stres menurun, serta kepuasan kerja meningkat.
Misalnya di Skotlandia, pada percobaan selama enam bulan dengan model “100-80-100” (80% waktu kerja, dengan produktivitas dan gaji tetap 100%), karyawan melaporkan tingkat stres dan burnout yang lebih rendah. Produktivitas tetap atau bahkan meningkat dibanding sebelum percobaan.
Di perusahaan-perusahaan seperti Buffer dan Uncharted, mereka yang menerapkan pekan kerja empat hari melaporkan bahwa keseimbangan hidup menjadi lebih baik, pekerja bisa mengatur prioritas dengan lebih jelas, dan kualitas output kerja tidak menurun.
Hambatan dan Kritik, Apakah Semua Bisa Mengikuti Tren Ini?
Walau banyak manfaatnya, ada juga kendala nyata dalam penerapan wellbeing kerja dengan pola baru.
Beberapa tantangan termasuk masalah industri yang sifatnya sangat padat kerja (manufacturing, kesehatan darurat), di mana penggantian tenaga kerja tidak semudah di industri kreatif atau teknologi.
Ada juga biaya operasional, budaya perusahaan yang belum siap, serta kekhawatiran bahwa pengurangan hari kerja tanpa pengurangan jam kerja bisa malah menambah kepadatan tugas di hari-kerja yang tersisa.
Di Belgia sendiri, meskipun pekerja mendapat opsi bekerja empat hari, mereka tetap harus bekerja jumlah jam yang sama — artinya mereka “memadatkan” tugas ke dalam hari kerja yang lebih sedikit.
Kritikus menyebut bahwa jika tidak ada pengurangan beban kerja, model ini bisa menjadi hanya “perubahan kosmetik” tanpa efek nyata terhadap kesehatan mental.
Praktik Perusahaan Global yang Menerapkan Wellbeing
Selain kebijakan jam kerja, banyak perusahaan yang fokus pada kesejahteraan karyawan lewat program pendukung kesehatan mental, fleksibilitas kerja, dan fasilitas lain.
Contohnya di Amerika Serikat, banyak perusahaan menyediakan layanan terapi, sesi mindfulness, dan waktu kerja fleksibel.
Dalam survei yang disusun oleh organisasi seperti 4 Day Week Global, banyak perusahaan yang memilih permanent 4-day week setelah melihat hasil positif dalam uji coba.
Beberapa perusahaan seperti Unilever di New Zealand melakukan uji coba panjang, dan setelah terbukti manfaatnya, memperluas kebijakan kerja pendek tersebut.
Refleksi dan Implikasi di Indonesia
Bagi negara seperti Indonesia, tren wellbeing di dunia kerja dengan pola minggu kerja lebih pendek belum banyak diterapkan secara luas, terutama di sektor formal besar.
Namun, banyak perusahaan startup dan digital sudah mulai menawarkan fleksibilitas waktu, remote work, cuti tambahan, dan perhatian terhadap kesehatan mental.
Artikel-artikel lokal menyebut bahwa pekerja milenial dan Gen Z semakin menuntut work-life balance, dan kadang memilih pekerjaan yang lebih memperhatikan kesejahteraan dibanding hanya gaji.
Jika ada regulasi yang mendukung serta kesadaran perusahaan meningkat, bukan tidak mungkin model seperti pekan kerja empat hari atau pengaturan jam kerja fleksibel bisa diadaptasi di Indonesia.
Manfaatnya akan besar di antaranya mengurangi stres, meningkatkan produktivitas, dan membangun iklim kerja yang lebih berkelanjutan.
Kesejahteraan Sebagai Masa Depan Dunia Kerja
Tren wellbeing di tempat kerja sedang berkembang, bukan hanya sebagai slogan, melainkan sebagai kebijakan nyata yang sudah diterapkan di banyak tempat di dunia.
Model seperti pekan kerja empat hari, fleksibilitas waktu, dan perhatian pada kesehatan mental membuktikan bahwa produktivitas dan kesejahteraan bisa berjalan seiring.
Dunia kerja yang lebih manusiawi bukanlah mimpi — bila perusahaan dan pemerintah mau mendengarkan kebutuhan manusia, bukan hanya kegiatan ekonomi.
Karena ketika karyawan sehat, bahagia, dan berenergi, perusahaan pun akan berjalan lebih baik.




















