Bittersweet of Life Atta Halilintar, Dari Terminal ke Takhta Digital
Kisah hidup Atta Halilintar penuh perjuangan. Dari anak sulung yang hidup susah dan pernah jualan di terminal, hingga menjadi YouTuber, produser, dan pengusaha sukses. Inilah perjalanan bittersweet sang inspirator muda Indonesia.
SHOWBIZLINE – Di balik senyum dan gemerlap kehidupan mewahnya hari ini, Atta Halilintar pernah hidup di masa yang sangat sulit. Ia adalah anak pertama dari 13 bersaudara dalam keluarga Gen Halilintar, pasangan Lenggogeni Faruk dan Halilintar Anofial Asmid, yang dikenal sebagai keluarga wirausaha keliling dunia.
Namun jauh sebelum dikenal, perjalanan mereka penuh liku. Atta kecil tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga yang naik turun. Dalam beberapa wawancara, Atta pernah mengaku putus sekolah di tingkat SMP karena harus membantu ekonomi keluarga. Ia menjual apa pun yang bisa dijual — dari sandwich, kartu perdana, hingga mainan kecil-kecilan — demi membantu orang tuanya.
“Saya dulu pernah jualan di terminal, bahkan kadang menampung makanan sisa. Tapi dari situ saya belajar, hidup itu bukan soal mengeluh, tapi soal bertahan,” ujar Atta dalam salah satu wawancaranya.
Kehidupan berpindah-pindah membuatnya terbiasa mandiri sejak kecil. Ia tak hanya jadi kakak, tapi juga pelindung bagi dua belas adiknya. Dalam masa sulit itu, mental baja dan rasa tanggung jawab terbentuk dalam dirinya.
Belajar Dagang dari Nol: Terminal, Online, dan Mental Pengusaha

Atta tumbuh di keluarga yang hidupnya berpindah-pindah mengikuti bisnis orang tua. Namun ketika bisnis keluarga menurun, ia tak tinggal diam. Sejak usia belasan tahun, ia mulai berdagang kecil-kecilan secara mandiri.
Ia belajar cara mempromosikan barang secara online, menulis artikel jualan di blog, hingga membuka akun media sosial untuk memasarkan produk. Dalam wawancara bersama Antara News, Atta mengaku pernah menjadi “sales kecil” yang menjual handphone bekas dan kartu perdana.
Dari sana, bibit wirausaha dalam dirinya tumbuh. Ia mulai memahami bagaimana dunia digital bekerja — bahkan sebelum istilah influencer populer. “Saya belajar menjual, memasarkan, menulis, semuanya dari nol,” katanya.
Tak jarang, uang hasil dagang ia pakai untuk membantu adik-adiknya membeli buku atau membayar ongkos sekolah. Dalam situasi sulit itu, ia menemukan satu hal penting: kegigihan adalah bentuk cinta kepada keluarga.
Rasa Insecure dan Tekanan Mental: Saat Dunia Belum Mengenalnya

Meski dikenal percaya diri di depan kamera, Atta pernah melewati masa-masa insecure dan rasa rendah diri yang mendalam. Atta pernah bercerita bahwa dulu berat badannya bahkan di bawah 50 kilogram, dan ia tidak percaya diri melihat dirinya di layar.
“Saya dulu gak suka lihat diri sendiri di video. Rasanya aneh, saya kurus banget, keliatan gak menarik,” ungkapnya.
Namun seiring waktu, ia belajar bahwa membangun diri bukan hanya soal penampilan, tetapi soal keberanian menghadapi ketakutan sendiri.
Ia mulai berolahraga, memperbaiki pola hidup, dan menemukan cara untuk menyalurkan energinya ke hal-hal produktif. Dari sanalah, semangat barunya muncul.
Tapi ujian belum berhenti. Setelah mulai dikenal, Atta harus menghadapi tekanan publik dan media.
Ia mengaku pernah sampai berpikir ingin menyerah, bahkan terlintas untuk mengakhiri hidup karena tekanan bertubi-tubi — mulai dari masalah hukum, komentar negatif, hingga cibiran sosial.
“Kadang saya capek banget. Dari persidangan ke persidangan, dari masalah ke masalah. Tapi saya sadar, Tuhan gak akan kasih cobaan di luar batas kemampuan kita,” katanya lirih.
Momen itu menjadi titik balik hidupnya. Ia mulai belajar memaafkan, berdamai dengan masa lalu, dan menjadikan setiap luka sebagai bahan bakar untuk naik lebih tinggi.
Dari Kamera Pinjaman ke YouTuber Nomor Satu di Asia Tenggara

Perjalanan digital Atta dimulai dari kamera pinjaman. Ia meminjam kamera milik teman, belajar editing otodidak, dan mengunggah video pertama di YouTube pada tahun 2014.
Awalnya tak ada yang menonton, tapi ia tak menyerah. Ia mengunggah video setiap hari, bereksperimen dengan gaya konten, dan pelan-pelan menemukan formula yang disukai publik.
Ketika YouTube mulai dikenal sebagai ladang kreatif baru, nama Atta Halilintar muncul sebagai pionir.
Pada tahun 2018, ia menjadi YouTuber pertama di Asia Tenggara yang mencapai 10 juta subscriber, dan menerima Diamond Play Button dari YouTube. Prestasi itu tak datang dari keberuntungan, melainkan kerja keras bertahun-tahun tanpa henti.
“Saya pernah upload ratusan video tanpa hasil. Tapi saya gak berhenti. Saya tahu, kalau saya berhenti, semua perjuangan sebelumnya akan sia-sia,” ujarnya dalam sebuah wawancara kepada media.
Atta kemudian memperluas kiprahnya: dari konten kreator menjadi produser musik, artis film, dan pengusaha muda. Ia mendirikan brand fashion, membuka bisnis kuliner, hingga merambah dunia properti dan otomotif.
Kehidupan Baru: Cinta, Keluarga, dan Warisan Positif

Di tengah kesibukannya, kehidupan pribadi Atta pun menjadi sorotan. Pernikahannya dengan Aurel Hermansyah pada tahun 2021 menjadi salah satu momen besar di dunia hiburan Indonesia.
Dari pernikahan itu, lahirlah Ameena Hanna Nur Atta dan Azura Lenggogeni Halilintar, yang semakin melengkapi kebahagiaannya sebagai suami dan ayah.
Kini, Atta bukan hanya dikenal sebagai YouTuber nomor satu, tapi juga ikon generasi muda yang mengajarkan nilai kerja keras, keluarga, dan spiritualitas. Ia sering membagikan pesan bahwa kesuksesan bukan tentang materi, tapi tentang kemampuan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
“Saya dulu cuma anak terminal. Sekarang, kalau bisa bantu orang, rasanya jauh lebih bahagia daripada beli barang mewah,” ucapnya dalam salah satu vlog reflektifnya.
Dunia Berputar: Dari Gelap ke Terang

Kisah hidup Atta Halilintar adalah cermin dari kenyataan bahwa hidup tak selalu indah, tapi selalu berharga. Ia pernah jatuh, pernah kehilangan, pernah merasa tak berguna — tapi ia tak berhenti berjuang.
Setiap keringat, air mata, dan luka menjadi bagian dari proses yang membentuknya menjadi sosok hari ini.
Perjalanan hidupnya menggambarkan filosofi “bittersweet of life”: ada tangis dan tawa, ada luka dan cinta, ada gelap dan terang. Namun yang membedakan, ia memilih untuk bangkit setiap kali jatuh.
Kini, di balik kemewahan yang terlihat di layar, Atta tetap membawa nilai sederhana dari masa lalunya: kerja keras, doa, dan rasa syukurnya.
Kehidupan Atta Halilintar bukan sekadar kisah sukses YouTuber kaya raya. Ini adalah cerita tentang anak muda yang berjuang dari titik nol, yang percaya bahwa setiap luka bisa menjadi cahaya, setiap kegagalan bisa jadi guru, dan setiap perjalanan — betapa pahit pun — selalu membawa makna.
Dari terminal ke panggung dunia digital, dari jualan kecil ke bisnis miliaran, dari kesepian ke cinta yang utuh — itulah bittersweet of life versi Atta Halilintar.





















