Home Feature & Community Fenomena Lavender Marriage, Pernikahan Tanpa Cinta Demi Citra
Feature & Community

Fenomena Lavender Marriage, Pernikahan Tanpa Cinta Demi Citra

Lavender marriage adalah pernikahan yang dijalani bukan karena cinta, melainkan demi menjaga citra sosial, karier, atau keluarga. Simak pengertian, tren, dan alasan mengapa orang memilih jalan ini.

Ilustrasi Lavender Marriage (Istimewa)

SHOWBIZLINEPernikahan sering digambarkan sebagai puncak cinta antara dua insan. Namun, di balik gemerlap pesta dan janji setia, ada pula pernikahan yang lahir dari kesepakatan rasional — bukan perasaan.

Fenomena ini dikenal sebagai lavender marriage, istilah yang mungkin terdengar indah, tetapi menyimpan kisah kompleks tentang tekanan sosial, identitas, dan kompromi hidup.

Apa Itu Lavender Marriage?

Lavender marriage adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pernikahan antara dua orang — biasanya laki-laki dan perempuan — yang salah satunya (atau keduanya) memiliki orientasi seksual minoritas, seperti gay atau lesbian.

Tujuan utama dari pernikahan ini bukan cinta romantis, melainkan untuk menjaga citra sosial, melindungi privasi, atau memenuhi ekspektasi keluarga dan masyarakat.

Istilah “lavender” sendiri mulai populer di Amerika Serikat pada era 1920–1950-an, ketika banyak selebritas Hollywood memilih menikah dengan lawan jenis agar karier mereka tidak hancur karena isu orientasi seksual.

Seiring waktu, konsep ini meluas ke berbagai negara, termasuk di Asia, di mana norma budaya dan agama masih menuntut pernikahan heteroseksual sebagai satu-satunya bentuk hubungan yang diterima.

Mengapa Lavender Marriage Terjadi?

Fenomena lavender marriage tidak terjadi tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Tekanan Sosial dan Keluarga

Di banyak budaya, pernikahan dianggap kewajiban moral. Orang yang tidak menikah pada usia tertentu sering dianggap “tidak normal”.

Akibatnya, sebagian orang yang memiliki orientasi berbeda memilih menikah secara formal demi menghindari stigma.

Karier dan Reputasi Publik

Bagi tokoh publik, seperti selebritas, politisi, atau pengusaha, citra sangat penting. Hubungan non-heteronormatif masih sering dianggap tabu.

Lavender marriage menjadi cara “aman” untuk mempertahankan reputasi profesional tanpa harus mengorbankan identitas pribadi sepenuhnya.

Kesepakatan Bersama

Dalam beberapa kasus, lavender marriage dilakukan atas dasar saling pengertian. Dua individu dengan orientasi berbeda bisa sepakat untuk menikah demi tujuan tertentu — misalnya berbagi tanggung jawab sosial atau ekonomi — tanpa menuntut hubungan romantis.

Tren Modern, Rahasia di Balik Pernikahan Ideal

Di era media sosial, di mana “kehidupan ideal” sering dipamerkan, lavender marriage justru menemukan bentuk baru.

Beberapa pasangan membangun citra harmonis di publik, sementara di balik layar, mereka hidup dengan batasan dan kesepakatan masing-masing.

Fenomena ini juga semakin terlihat di negara-negara dengan tekanan budaya tinggi terhadap norma heteroseksual.

Di China, Jepang, hingga Indonesia, ada laporan tentang komunitas yang mempertemukan pria gay dan wanita lesbian untuk membuat pernikahan “simbolis”.

Tujuannya hanya memenuhi tuntutan keluarga tanpa menentang nilai sosial secara terang-terangan.

Dampak Psikologis dan Etika Lavender Marriage

Meski tampak sebagai solusi praktis, lavender marriage sering membawa beban emosional. Hubungan yang dijalani tanpa cinta dan keintiman sejati bisa menimbulkan rasa tertekan, kesepian, bahkan kehilangan identitas diri.

Lavender marriage adalah cermin dari realitas sosial yang belakangan terjadi di kalangan yang membutuhkan citra positif demi berbagai alasan pribadi.

Previously

Hampir Rp5 Miliar, Amanda Manopo Ungkap Sosok yang Tanggung Semua Biaya Pernikahannya

Next

Alasan Sandra Dewi Cabut Gugatan Keberatan atas Perampasan Asetnya oleh Negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement