Home Beauty & Wellness Jalan Kaki di Mal Bukan Termasuk Olahraga, Begini Alasan Medisnya
Beauty & Wellness

Jalan Kaki di Mal Bukan Termasuk Olahraga, Begini Alasan Medisnya

Banyak orang mengira jalan kaki di mal sudah termasuk olahraga. Faktanya, menurut dokter dan panduan kesehatan dunia, jalan santai tanpa peningkatan detak jantung tidak memenuhi kriteria aktivitas fisik intensitas sedang. Ketahui alasannya dan cara membuat jalan kaki jadi benar-benar menyehatkan.

Ilustrasi jalan di mal (Istimewa)

SHOWBIZLINE – Setiap akhir pekan, banyak orang menghabiskan waktu berjalan kaki di dalam mal. Beberapa bahkan menganggapnya sebagai “olahraga ringan”. Namun benarkah demikian?

Menurut sejumlah dokter dan panduan dari lembaga kesehatan dunia seperti WHO dan American Heart Association (AHA), jalan kaki yang tidak menaikkan detak jantung secara signifikan belum bisa disebut olahraga.

Jalan kaki di mal memang membuat tubuh bergerak, tapi intensitasnya sering kali terlalu rendah untuk memberi efek kebugaran yang berarti bagi jantung dan paru.

Apa yang Dimaksud dengan Olahraga Menurut Dunia Medis

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan aktivitas fisik sebagai segala bentuk gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran energi — termasuk jalan kaki, berkebun, atau bersih-bersih rumah.

Namun, untuk disebut “olahraga” dalam konteks kesehatan jantung, aktivitas itu harus mencapai intensitas sedang hingga tinggi.

Dalam panduan AHA, seseorang baru dikatakan berolahraga dengan intensitas sedang bila:

  • Detak jantung meningkat hingga 50–70% dari detak jantung maksimal,
  • Napas terasa lebih cepat, tapi masih bisa berbicara,
  • Terdapat sedikit keringat atau sensasi hangat di tubuh.

Jadi, meskipun jalan kaki di mal tetap termasuk aktivitas fisik, belum tentu memenuhi kriteria olahraga yang menyehatkan jantung.

Mengapa Jalan Kaki di Mal Tidak Termasuk Olahraga

Mari bayangkan situasinya. Kamu berjalan santai di mal, berhenti di setiap etalase, menatap ponsel, lalu mampir beli minuman. Secara medis, pola seperti ini dikategorikan sebagai aktivitas ringan — bukan olahraga.

Beberapa alasan utamanya adalah:

Tidak Meningkatkan Detak Jantung Secara Signifikan

Jalan santai di ruang ber-AC dengan langkah tidak konsisten biasanya tidak membuat jantung bekerja lebih keras.

Tidak Ada Tantangan Fisik yang Stabil

Olahraga efektif dilakukan dalam durasi tertentu dengan ritme yang stabil, misalnya jalan cepat 30 menit tanpa jeda.

Sering Diselingi Istirahat dan Berhenti Lama

Setiap kali berhenti untuk melihat toko atau berbicara, intensitas detak jantung menurun lagi ke level istirahat.

Menurut Harvard Health Publishing, untuk mendapatkan manfaat kebugaran dari jalan kaki, seseorang perlu berjalan dengan kecepatan sekitar 4–6 km per jam, atau cukup cepat hingga napas terasa lebih berat tapi masih bisa bicara.

Jika jalan terlalu pelan, manfaatnya lebih mirip “aktivitas ringan” seperti berdiri atau mengelilingi rumah.

Jalan Santai Tetap Ada Manfaatnya

Meskipun bukan olahraga dalam definisi medis, jalan kaki termasuk di mal tetap bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan mental. Terutama bagi orang yang jarang bergerak atau bekerja terlalu lama di depan layar.

Beberapa manfaat ringan yang bisa diperoleh:

  • Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan otot,
  • Membantu mengurangi stres karena aktivitas sosial dan relaksasi,
  • Membakar kalori ringan, sekitar 100–150 kalori per jam, tergantung berat badan.

Jadi, kalaupun tidak termasuk olahraga, aktivitas ini tetap lebih baik daripada duduk seharian tanpa gerak sama sekali.

Tips Agar Jalan Kaki Benar-Benar Jadi Olahraga

Agar jalan kaki benar-benar bermanfaat sebagai aktivitas olahraga, dokter dan ahli kebugaran menyarankan beberapa hal berikut:

Tingkatkan Kecepatan

Cobalah berjalan lebih cepat hingga terasa sedikit ngos-ngosan, tapi masih bisa berbicara.

Tambahkan Durasi atau Jarak

Idealnya 30 menit per sesi, 5 kali seminggu. Bisa dibagi menjadi dua sesi 15 menit jika padat waktu.

Gunakan Tangga atau Tanjakan

Menambah variasi medan akan meningkatkan kerja otot dan jantung.

Gunakan Jam Pintar (Smartwatch) atau Aplikasi Detak Jantung

Pastikan detak jantung mencapai 50–70% dari maksimal (220 dikurangi usia).

Lakukan Konsisten

Konsistensi lebih penting daripada intensitas sesaat. Jalan cepat rutin 30 menit setiap hari jauh lebih baik daripada olahraga berat sekali seminggu.

Pendapat Dokter: “Intensitas Adalah Kuncinya”

Banyak dokter sepakat bahwa intensitas dan konsistensi lebih penting daripada jenis aktivitasnya.

Dr. Wendy Suzuki, ahli saraf dari New York University, mengatakan bahwa aktivitas seperti jalan cepat bisa memperbaiki suasana hati, memicu pelepasan endorfin, dan menyehatkan otak.

Asalkan dilakukan dengan ritme yang cukup tinggi untuk membuat jantung bekerja lebih keras.

Sementara menurut Mayo Clinic, cara mudah menilai intensitas adalah “talk test” — jika kamu masih bisa bicara tapi tidak bernyanyi, artinya kamu berada di intensitas sedang.

Bergeraklah, Tapi Tingkatkan Sedikit Usahanya

Jadi, jalan kaki di mal ataudi manapun memang membuat tubuh bergerak, tapi belum memenuhi kriteria olahraga yang menyehatkan jantung.

Namun, jangan patah semangat. Aktivitas ringan ini tetap bisa menjadi langkah awal menuju gaya hidup aktif.

Mulailah dari hal kecil seperti meningkatkan kecepatan langkah, tambah durasi, atau lanjutkan jalan kaki ke luar ruangan.

Karena pada akhirnya, tubuh yang rutin bergerak — sekecil apa pun — jauh lebih sehat daripada tubuh yang diam.

Previously

Davina Karamoy Bintangi 'Kuncen', Ini Sinopsis Film Horor yang Diproduseri Atta Halilintar

Next

Sosok Sabrina Alatas, Chef Cantik yang Usianya Lebih Muda dari Raisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement