Tak Kenal Maka Ta’aruf, Debut Apik Toma Margens yang Angkat Kisah Cinta Ideal Generasi Muda
Tak Kenal Maka Ta'aruf, film debut sutradara Toma Margens, siap tayang 13 November 2025. Kisahkan Zoya (Saskia Chadwick) & Faris (Fadi Alaydrus) dalam jalan cinta lewat ta'aruf. Baca sinopsis & ulasan pemainnya di sini!
SHOWBIZLINE – Di tengah gemerlap dunia percintaan modern yang seringkali abu-abu, hadir sebuah film yang berani menawarkan opsi berbeda.
Tak Kenal Maka Ta’aruf, produksi Yahywa Titi Mangsa, siap menyapa penonton mulai 13 November 2025.
Film ini bukan hanya istimewa karena kisahnya yang relevan, tetapi juga karena menandai debut penyutradaraan Toma Margens, putra aktor senior Toro Margens.
Dengan menggabungkan kondisi sosial nyata dan nilai-nilai ideal, film ini ingin menjadi penuntun sekaligus hiburan bagi generasi muda.
Lebih dari Sekadar Film, Sebuah Pesan untuk Generasi Penerus

Antusiasme terpancar dari sutradara baru, Toma Margens, yang dengan penuh semangat mempersembahkan film perdananya.
Ia menyatakan, “Akhirnya film ini tayang. Kami persembahkan film ini untuk remaja yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan.”
Lebih lanjut, Toma menjelaskan keberanian timnya dalam mengusung tema yang berbeda. “Kami beranikan diri mengangkat tema yang berbeda lewat film ini dengan memadukan kondisi sosial di masyarakat dan kondisi ideal yang masih jarang diterapkan.”
Visi ini diamini sepenuhnya oleh Executive Produser, Dedy Suherman. Ia mengungkapkan kegelisahan yang melatarbelakangi kehadiran film Tak Kenal Maka Ta’aruf.
“Memang waktu mempersiapkan film ini… pemikirannya sama. Kami bapak-bapak yang gelisah dengan pergaulan anak muda sekarang. Makanya ngasih tuntunan lewat film supaya nggak terkesan menggurui.”
Pendekatan yang ringan namun penuh makna ini diharapkan dapat diterima dengan baik oleh para penonton muda.
Kilas Cerita: Philophobia, Cinta, dan Jalan Ta’aruf

Film ini mengisahkan tentang Zoya (Saskia Chadwick), seorang mahasiswi kedokteran yang berprinsip teguh pada ajaran agamanya. Zoya memegang kuat prinsip tentang konsep pernikahan tanpa pacaran.
Prinsip ini semakin kokoh karena pengalaman traumatis kedua kakaknya, Khalid (Maghara Adipura) dan Asma (Ghina Salsabiela), yang gagal dalam percintaan, hingga membuat Zoya mengidap Philophobia atau takut jatuh cinta.
Konflik dimulai ketika Zoya bertemu dengan Faris (Fadi Alaydrus), seorang mahasiswa teknologi kelautan yang gantikan dan vokalis sebuah band.
Berbeda dengan kesan pertama yang romantis, Zoya justru membenci Faris pada pandangan pertama, terutama karena suara bising motornya yang mengganggu saat ia pergi sholat.
Di sisi lain, ada Cleopatra (Dinda Mahira), mahasiswi metropolis yang cantik dan agresif. Sebagai fans berat Faris, ia tak segan mengejar cintanya mati-matian.
Di tengah kegalauan hatinya, Zoya harus menghadapi ujian berat dengan kepergian ayahnya.
Jalan ta’aruf kemudian hadir sebagai proses pengenalan yang dalam dan penuh makna, menyembuhkan ketakutannya dan membawanya pada cinta yang sejati.
Seperti yang diungkapkan Saskia, “Zoya ini orangnya takut jatuh cinta, tapi cinta juga yang menyembuhkannya.”
Keseruan Proses Kreatif dan Harapan Para Pemain

Para pemain utama film ini menyambut antusias proyek tersebut. Fadi Alaydrus, yang memerankan Faris, mengungkapkan, “Buat aku, film ini kekinian banget. Memberikan opsi pencarian pasangan hidup dengan proses yang baik sesuai kaidah agama Islam.”
Ia juga bercerita tentang tantangan yang dihadapi selama syuting. “Aku harus hati-hati dalam menjaga karakter Faris karena bertolak belakang dengan sifat asliku yang extrovert. Untungnya teman-teman sangat kompak dan jadi saling bantu membangun karakter saat syuting.”
Sadkia Chadwik, yang menjadi sosok Zoya, berharap film ini bisa memberikan dampak positif. Dia berharap film ini tidak cuma menjadi hiburan tetapi juga tuntunan buat anak muda.
Ia juga membagikan pengalaman menontonnya, “Pas nonton film rasanya kayak mengingat pesan papa untuk menjaga diri dari pergaulan bebas. Tapi tetap menarik bikin baper dan ketawa-ketawa sendiri.”
Penulis skenario, Mim Yudiarto, membagikan motivasinya. “Pas nulis skenario saya bayangin membuat cerita ini untuk remaja yang mulai mapan dan mencari hubungan serius. Tapi kan nggak semua orang bisa bersabar dengan proses pengenalan yang memakan waktu lama. Jadi sebenarnya taaruf itu ideal sekali untuk diterapkan.”















