Nunung Bela Diri karena Jadi Mertua Matre di Film Pesugihan Sate Gagak, “Capek Hidup Miskin”
Nunung bela diri soal perannya sebagai mertua matre di film Pesugihan Sate Gagak. Ia ungkap alasan di balik tuntutan mahar dan curhat soal capeknya hidup miskin. Simak kisah lengkapnya di sini.
SHOWBIZLINE – Komedian senior Nunung Srimulat kembali mencuri perhatian publik lewat perannya dalam film horor komedi terbaru berjudul Pesugihan Sate Gagak.
Dalam film ini, Nunung memerankan karakter Imas, seorang ibu yang dikenal sebagai mertua matre.
Namun, alih-alih merasa tersinggung dengan label tersebut, Nunung justru memberikan pembelaan yang menyentuh dan jujur tentang peran serta pandangannya terhadap kehidupan.
Dalam sesi wawancara usai screening film di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Nunung mengungkapkan bahwa menjadi orang miskin adalah hal yang sangat melelahkan.
“Karena, eh, apa ya, miskin itu capek lho,” ujarnya dengan nada getir namun jujur.
Ia menambahkan bahwa semua orang pasti ingin hidup bahagia dan berkecukupan, termasuk para ibu yang menginginkan anaknya memiliki masa depan yang terjamin.
Pernyataan ini sontak menjadi sorotan karena mencerminkan realita sosial yang kerap diabaikan dalam narasi film komedi.
Peran Imas dan Refleksi Kehidupan Nyata

Dalam Pesugihan Sate Gagak, karakter Imas digambarkan sebagai ibu yang menuntut mahar sebesar Rp150 juta dari calon menantunya, Anto, yang diperankan oleh Ardit Erwandha.
Tuntutan ini menjadi pemicu konflik utama dalam cerita, yang kemudian membawa tokoh utama terjerumus dalam praktik pesugihan.
Nunung menilai bahwa keinginan seorang ibu agar anaknya menikah dengan pasangan yang mapan adalah hal yang wajar.
“Siapa orang yang kepengin hidup miskin? Nggak ada. Orang pasti penginnya hidup bahagia, mapan, iya kan? Berkecukupan,” tegasnya.
Nunung juga menyampaikan bahwa peran Imas sangat relevan dengan kehidupan nyata, terutama bagi para ibu yang ingin memastikan anak-anaknya tidak mengalami kesulitan ekonomi.
Ia menekankan bahwa karakter Imas bukan sekadar mertua matre, tetapi representasi dari kekhawatiran dan cinta seorang ibu terhadap masa depan anaknya.
“Ya, kan semua, mungkin ibu-ibu di mana aja, maunya kalau mau melepas anaknya, entah itu laki, entah itu cewek, pasti menginginkan yang terbaik,” ujarnya.
Komedi Horor dengan Sentuhan Sosial

Pesugihan Sate Gagak disutradarai oleh Adhe Dharmastriya dan menggabungkan elemen horor dengan komedi absurd yang mengangkat isu sosial seperti tekanan ekonomi dan tuntutan pernikahan.
Film ini tidak hanya menyuguhkan tawa, tetapi juga menyentil realita masyarakat yang kerap terjebak dalam standar hidup dan ekspektasi sosial.
Kehadiran Nunung sebagai Imas memberikan warna tersendiri, karena ia mampu menghidupkan karakter dengan nuansa emosional yang kuat meski dalam balutan komedi.
Film ini juga menampilkan akting dari Yoriko Angeline sebagai Andini, putri Imas, yang menjadi korban dari tekanan keluarga dan akhirnya terseret dalam konflik batin antara cinta dan tuntutan materi.
Dengan latar cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Pesugihan Sate Gagak menjadi refleksi satir tentang bagaimana masyarakat memandang kemapanan sebagai syarat utama dalam membangun rumah tangga.















