Kontroversi ‘Rahim Copot’ yang Mengguncang Dunia Medis, Fakta di Balik Cerita Viral dr. Gia Pratama
Kontroversi kasus 'rahim copot' dr. Gia Pratama dijelaskan tuntas. Simak kronologi, pengakuan dokter penangan, tanggapan POGI, dan fakta medis di balik cerita viral ini.
SHOWBIZLINE – Dunia medis Indonesia sempat diguncang oleh sebuah cerita viral yang sulit dipercaya: kasus ‘rahim copot‘.
Diceritakan pertama kali oleh influencer kesehatan, dr. Gia Pratama, dalam sebuah podcast, kisah ini memicu perdebatan sengit di kalangan dokter sendiri.
Di satu sisi, ada yang menyangsikan kejadiannya karena dianggap mustahil secara medis. Di sisi lain, muncul saksi kunci yang membenarkan dan bahkan terlibat langsung dalam penanganan kasus langka tersebut.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Berikut ini penelusuran lengkapnya.
Awal Mula Viral: Kantong Kresek Berisi Rahim di IGD
Kontroversi ini berawal dari pengakuan dr. Gia Pratama tentang pengalamannya menangani sebuah kasus tidak biasa saat berjaga di IGD sebuah RSUD.
Seorang pria datang membawa sekantong kresek hitam. Setelah dibuka, ternyata berisi rahim manusia.
Menurut penuturan dr. Gia, kejadian ini terjadi pascapersalinan yang ditangani dukun beranak (paraji).
Sang dukun diduga menarik paksa plasenta atau ari-ari, padahal seharusnya plasenta bisa lahir dengan sendirinya dalam waktu tertentu. Tindakan inilah yang diduga menyebabkan rahim ikut tertarik dan terlepas.
Gelombang Kontroversi: Skeptisisme di Kalangan Medis
Cerita dr. Gia langsung menuai respons beragam dari kalangan medis, khususnya dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (obsgyn).
Banyak yang menyatakan keraguan mereka, karena secara anatomi, rahim memiliki struktur yang sangat kuat dan hampir mustahil bisa “copot”.
Para dokter yang skeptis ini mengajukan penjelasan alternatif, yang mungkin terjadi adalah inversio uteri, kondisi di mana rahim terbalik dan bisa keluar melalui vagina, namun masih terhubung dan bisa dikembalikan ke posisi semula. Bukan “copot” dalam arti terlepas sepenuhnya.
Saksi Kunci Bermunculan: Dokter Obsgyn yang Menangani Langsung
Gelombang skeptisisme ini justru memunculkan saksi kunci yang membenarkan cerita dr. Gia. Dr. dr. Christofani E, SpOG, SubspFER, seorang dokter spesialis obsgyn, mengaku merupakan salah satu dokter yang menangani langsung kasus tersebut 15 tahun silam saat masih menjadi residen di RSUD Slamet, Garut.
“Kaget dan tidak percaya,” ujarnya menggambarkan reaksinya saat pertama kali melihat kantong kresek hitam berisi rahim, sebagaimana dikutip dari Detik.
dr. Christo menegaskan bahwa ini adalah kasus pertama dan terakhir yang ditanganinya sepanjang karier medisnya. Ia menjelaskan kronologi yang konsisten dengan cerita dr. Gia.
“Kondisi saat itu sesuai cerita dr. Gia. Paraji datang membawa kresek hitam, saat kami buka ternyata isinya rahim kira-kira setengah dari puncak rahim sampai badan rahim.”
Pasien saat itu dalam kondisi shock hipovolemik yang mengancam jiwa akibat kehilangan darah sangat banyak. Tim yang terdiri dari lebih tiga dokter pun bergegas melakukan resusitasi cairan dan operasi untuk menghentikan perdarahan.
dr. Christo pun memahami keraguan rekan-rekan sejawatnya. “Saya pun akan sama respons-nya kalau mendengar berita seperti ini. Karena pada kondisi normal tidak mungkin rahim bisa lepas sendiri. Kembali lagi, kondisi ini terjadi karena perlakuan dari paraji.”
Mengapa Tidak Ada Jurnal Ilmiah? Jawaban dari Lapangan
Salah satu pertanyaan kritis yang muncul adalah mengapa kasus langka seperti ini tidak didokumentasikan dalam jurnal ilmiah.
Terhadap pertanyaan ini, dr. Christofani memberikan penjelasan yang realistis tentang kondisi rumah sakit pendidikan.
“Kami residen bertugas di sana selama dua minggu, bisa bekerja sampai lewat tengah malam setiap hari. Jam tidur bahkan makan harus curi-curi,” ceritanya.
“Jadi jujur kami tidak sempat membuat paper untuk publikasi.”
Meski tidak sempat dipublikasi secara ilmiah, dr. Christo menegaskan bahwa tetap ada laporan yang dibuat untuk catatan dokumentasi di RSUD Garut.
Pandangan Resmi POGI, Etika Komunikasi Medis di Era Digital
Menanggapi kontroversi yang terjadi, Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof. Budi Wiweko, SpOG(K) memberikan panduan yang lebih substantif mengenai etika berkomunikasi bagi tenaga medis.
“Dalam memberikan informasi di media sosial, prinsipnya kita menjunjung tinggi aspek etik, profesionalisme, dan kompetensi di bidang kedokteran, sehingga edukasi yang disampaikan bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Prof. Budi dikutip dari Detik.
Ia menekankan pentingnya penyampaian informasi yang jelas dan sesuai panduan, termasuk tentang bahaya menarik plasenta paksa yang bisa menyebabkan inversio uteri dan kematian.
“Tidak untuk menyalahkan, tidak untuk menjelekkan, tidak untuk buat bingung masyarakat. Yang jelas, bila ingin menyampaikan sesuatu di media sosial, sampaikan informasi yang bermanfaat.”
Pelajaran Penting: Keselamatan Ibu Melahirkan di Atas Segalanya
Terlepas dari pro-kontra yang terjadi, kasus ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya persalinan yang aman.
Baik dr. Christofani maupun Prof. Budi Wiweko sepakat bahwa pemeriksaan kehamilan secara rutin dan memilih bersalin di fasilitas kesehatan yang memadai adalah kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Kisah ini, meskipun kontroversial, akhirnya berhasil mengedukasi masyarakat tentang risiko persalinan yang tidak ditangani secara medis dan pentingnya memilih tenaga kesehatan profesional dalam proses persalinan.





















