Dari Jurnalis ke Musik: Wawan Woker Rilis 8 Single, Manfaatkan AI, dan Siapkan Adaptasi Film
Wawan Woker, jurnalis senior, kini merilis 8 single musik dengan bantuan AI. Simak kisah transformasinya, makna di balik lagunya, dan rencana adaptasi film "Dejavu Cinta". Baca selengkapnya.
SHOWBIZLINE – Tahun 2025 ditutup dengan kejutan manis dari dunia kreatif Indonesia. Wawan Woker, sosok jurnalis hiburan senior yang namanya tidak asing di telinga publik—termasuk melalui berbagai pemberitaan dan insiden viral—kini tampil dengan identitas baru yang mengagumkan: sebagai penulis novel dan pencipta lagu yang produktif.
Dalam sebuah pencapaian personal yang signifikan, ia berhasil merilis delapan single ke berbagai platform musik digital global, menandai transformasi dirinya dari seorang pengamat hiburan menjadi pemain kreatif di dalamnya.
Delapan Karya sebagai Kado Akhir Tahun
Sebagai “kado akhir tahun”, Wawan Woker telah menembus pasar musik digital secara global. Dari sepuluh lagu yang didaftarkan ke aggregator musik ternama, SoundOn, sebanyak delapan lagu berhasil lolos kurasi.
Dan kini dapat dinikmati secara resmi di Spotify serta 29 platform musik digital lainnya di seluruh dunia. Pencapaian ini bukanlah hal sepele, terlebih bagi seseorang yang berlatarbelakang jurnalistik.
Kolaborasi Unik: Lirik Manusia, Vokal AI

Salah satu aspek paling menarik dari karya-karya Wawan adalah pendekatannya yang futuristik namun personal. Seluruh lirik lagu ditulis murni dari buah pikirannya, sementara ia juga turut terlibat dalam proses aransemen musik.
Namun, untuk elemen vokal, Wawan memilih memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini membantunya mencapai kualitas dan karakter suara spesifik yang diinginkan, termasuk untuk menciptakan vokal perempuan.
“Ini adalah pencapaian dan hadiah buat akhir tahun saya. Aggregator musik besar seperti SoundOn mau menerima karya saya. Lirik murni saya yang buat, musik ada campur tangan saya, tapi vokal saya memanfaatkan teknologi AI untuk mendapatkan ‘rasa’ yang pas. Ternyata hasilnya sangat membantu, terutama untuk lagu yang membutuhkan vokal perempuan,” jelas Wawan mengenai proses kreatifnya yang unik.
Lirik yang Sarat Makna: Dari Kisah Pribadi hingga Kritik Sosial
Kedelapan lagu yang dirilis bukan sekadar kumpulan nada, melainkan kanvas yang penuh dengan cerita. Inspirasi Wawan berangkat dari beragam sumber: curhatan teman, keprihatinannya sebagai jurnalis, hingga pengalaman hidup yang paling mendalam.
Lagu “Al Fatihah Aku Mencumbumu” adalah persembahan personal untuk mendiang istri tercinta yang berpulang pada tahun 2021, sebuah ungkapan rindu yang menyentuh.
Sementara “Sadarlah” lahir dari keprihatinannya sebagai jurnalis yang kerap meliput kasus selebriti terjerat narkoba, menjadi pesan moral yang tegas.
Ada pula “Tanahku Masih Basah” yang mengangkat sudut pandang unik dari alam kubur, serta lagu-lagu seperti “Jomblo Kualat” dan “Baiknya” yang mengolah dinamika percintaan dengan ringan namun bermakna.
“Dejavu Cinta”: Dari Single Menuju Layar Lebar
Di antara semua karyanya, lagu “Dejavu Cinta” diposisikan sebagai hero track. Lagu yang bercerita tentang cinta sejati lintas masa ini ternyata merupakan bagian dari proyek besar yang lebih ambisius.
Wawan saat ini tengah menyelesaikan novel dan skenario film dengan judul yang sama. Kabar menggembirakan datang dari dunia perfilman, dimana naskahnya telah menarik minat seorang produser.
Rencananya, kisah ini akan diangkat ke layar lebar dan lagu “Dejavu Cinta” akan berfungsi sebagai Original Soundtrack (OST) film tersebut.
“Mohon doanya agar proses adaptasi film ini lancar. Cinta sejati itu akan dipersatukan, walaupun di surga kelak,” tutup Wawan dengan penuh harap.
Transformasi Wawan Woker dari jurnalis menjadi kreator multitalenta menunjukkan bahwa ruang ekspresi tidak pernah tertutup.
Dengan memanfaatkan teknologi modern seperti AI dan berpegang pada kekuatan cerita yang autentik, ia membuka babak baru yang inspiratif dalam kariernya.















