Home Feature & Community Mi Instan Perlu Waktu Lama untuk Dicerna? Ini Studi Ilmiahnya
Feature & Community

Mi Instan Perlu Waktu Lama untuk Dicerna? Ini Studi Ilmiahnya

Mi instan sering disebut membutuhkan waktu lama untuk dicerna. Benarkah demikian? Artikel ini membahas fakta ilmiah, studi medis, serta penjelasan ahli tentang proses pencernaan mi instan di tubuh.

Ilustrasi Mi Instan (Istimewa)

SHOWBIZLINEMi instan kerap berada di posisi serba salah. Di satu sisi, ia menjadi penyelamat di saat lapar, sibuk, dan anggaran terbatas.

Di sisi lain, mi instan sering dituding sebagai makanan yang “tidak tercerna dengan baik”, bahkan disebut-sebut bisa bertahan lama di dalam tubuh.

Tak sedikit orang percaya bahwa mi instan membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, untuk diproses sistem pencernaan.

Namun, benarkah demikian jika ditinjau dari sudut pandang ilmiah?

Sistem Pencernaan Manusia Tidak Bekerja Seperti Itu

Secara medis, tubuh manusia memiliki sistem pencernaan yang bekerja kontinu dan efisien. Makanan yang masuk ke tubuh akan melalui lambung, usus halus, hingga usus besar, lalu dikeluarkan sebagai sisa metabolisme.

Merujuk pada penjelasan medis dari Harvard Health Publishing dan Mayo Clinic, rata-rata waktu yang dibutuhkan makanan untuk melewati sistem pencernaan manusia adalah sekitar 24 hingga 72 jam, tergantung pada jenis makanan,
kandungan serat, lemak serta kondisi individu.

Artinya, tidak ada makanan yang “mengendap” utuh di dalam lambung selama berminggu-minggu, termasuk mi instan.

Sistem pencernaan manusia tidak memiliki mekanisme biologis untuk menyimpan makanan dalam bentuk utuh dalam jangka waktu lama.

Lalu Mengapa Mi Instan Dianggap Lama Dicerna?

Anggapan ini tidak muncul tanpa sebab. Persepsi bahwa mi instan “berat” bagi pencernaan lebih berkaitan dengan komposisi gizinya, bukan karena tubuh gagal mencerna mi instan.

Mi instan merupakan karbohidrat olahan tinggi dan rendah serat. Jenis mi ini dibuat dari tepung terigu yang sangat halus dan telah melalui proses pengolahan intensif.

Karbohidrat jenis ini cepat dicerna, cepat meningkatkan kadar gula darah, namun rendah serat.

Kekurangan serat membuat kerja usus menjadi kurang optimal, sehingga sebagian orang merasakan pencernaan yang terasa lambat atau tidak nyaman. Sensasi inilah yang sering disalahartikan sebagai “mi instan lama dicerna”.

Kandungan Lemak yang Memperlambat Pengosongan Lambung

Sebagian besar mi instan diproses melalui penggorengan sebelum dikemas. Menurut American Heart Association, makanan tinggi lemak jenuh dapat memperlambat pengosongan lambung, sehingga perut terasa penuh lebih lama.

Kondisi ini bukan berarti mi instan tidak tercerna, melainkan prosesnya terasa lebih berat dibanding makanan segar yang tinggi serat.

Natrium Tinggi dan Efek Kembung

Mi instan dikenal memiliki kandungan natrium yang cukup tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa asupan natrium berlebih dapat menyebabkan retensi cairan, perut terasa kembung, dan rasa tidak nyaman pada saluran cerna.

Efek inilah yang kerap memperkuat mitos bahwa mi instan “menetap lama” di tubuh.

Apa Kata Studi Ilmiah tentang Mi Instan?

Hingga saat ini, tidak ada studi ilmiah kredibel yang menyatakan bahwa mi instan membutuhkan waktu sangat lama untuk dicerna atau menempel di lambung.

Namun, beberapa penelitian memang menyoroti dampak konsumsi mi instan terhadap kesehatan jangka panjang.

Salah satunya adalah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health yang menemukan bahwa konsumsi mi instan yang terlalu sering berkaitan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan.

Fokus penelitian tersebut bukan pada waktu pencernaan, melainkan pada kualitas gizi, kandungan natrium, lemak, serta pola konsumsi berulang.

Dengan kata lain, yang menjadi perhatian para ahli adalah frekuensi dan pola makan, bukan klaim bahwa mi instan “tidak tercerna”.

Jadi, Benarkah Mi Instan Lama Dicerna?

Secara ilmiah, jawabannya tidak. Mi instan pada dasarnya tetap dicerna tubuh dalam waktu normal, tidak mengendap di lambung, tidak membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diproses.

Namun, konsumsi mi instan secara berlebihan tanpa pendamping gizi lain dapat menimbulkan masalah kesehatan karena rendah serat, minim protein, tinggi natrium dan lemak.

Cara Lebih Bijak Mengonsumsi Mi Instan

Mi instan bukanlah “makanan berbahaya”, tetapi ia bukan pula makanan yang ideal jika dikonsumsi terus-menerus tanpa modifikasi.

Untuk membuatnya lebih ramah bagi tubuh, beberapa ahli gizi menyarankan menambahkan sayuran segar sebagai sumber serat.

Lalu juga menambah protein seperti telur, tahu, atau tempe, mengurangi penggunaan bumbu instan,
tidak menjadikannya menu harian.

Bukan Larangan Mutlak

Mitos bahwa mi instan membutuhkan waktu lama untuk dicerna adalah kesalahpahaman yang beredar luas di masyarakat.

Ilmu pengetahuan justru menunjukkan bahwa tubuh manusia mampu mencerna mi instan seperti makanan lain, hanya saja kualitas gizinya yang membuat dampaknya berbeda.

Seperti banyak hal dalam dunia nutrisi, kuncinya bukan pada larangan mutlak, melainkan pada keseimbangan dan kesadaran memilih.

Previously

Potret Keluarga Nia Ramadhani Plesiran ke Eropa

Next

Viral! Lifetime Design Hadirkan Hunian 'Luxury by the Sea' di CPI Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement