‘Penunggu Rumah: Buto Ijo’, Kisah Horor Modern yang Lahir dari Legenda Timun Mas
Film 'Penunggu Rumah: Buto Ijo', terinspirasi legenda Timun Mas, tayang 15 Januari 2026. Horor modern tentang konsekuensi & rahasia keluarga. Disutradarai Achmad Romie, dibintangi Gandhi Fernando.
SHOWBIZLINE – Di tengah dominasi film horor bertema spiritual dan klenik, sebuah film terobosan siap menghadirkan napas baru. ‘Penunggu Rumah: Buto Ijo’ hadir dengan membawa akar cerita yang akrab di telinga masyarakat Indonesia: legenda Timun Mas.
Film yang diproduksi oleh Creator Media, Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio, dan Vibe ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Januari 2026, dengan pemutaran spesial lebih awal pada 10-11 Januari di beberapa kota.
Film ini bukan sekadar adaptasi, melainkan sebuah interpretasi modern dan kelam dari folklor yang mendalam. Gandhi Fernando, yang bertindak sebagai produser, penulis, sekaligus pemain utama, menegaskan keunikan pendekatan ini.
“Kita semua pasti tau kisah Timun Mas dan Buto Ijo yang legend sekali. Waktu kecil kita membaca atau sekadar didongengkan. Nah film ini mengemas cerita tersebut dalam versi horor modern yang lebih mencekam dan kelam, tapi tetap ruh cerita Timun Mas-nya tidak menghilang. Tentu ini belum pernah diangkat di film-film Indonesia sebelumnya,” jelas Gandhi.
Teror yang Berakar dari Konflik Keluarga

Disutradarai oleh Achmad Romie, film ini tidak hanya mengandalkan ketakutan visual semata. Cerita berpusat pada Srini (Celine Evangelista), seorang janda dengan seorang anak perempuan, yang hidupnya mulai diteror oleh kejadian-kejadian aneh menjelang ulang tahun anaknya yang keenam.
Ketakutan dan gangguan yang semakin menjadi-jadi memaksanya untuk menghubungi Ali (Gandhi Fernando), mantan kekasihnya yang kini menjadi kreator konten horor uji nyali.
Bersama adiknya, Lana (Valerie Thomas), Ali awalnya melihat situasi ini sebagai bahan konten. Namun, mereka segera terseret ke dalam ancaman nyata ketika sosok Buto Ijo mulai menampakkan diri.
Di balik teror fisik yang muncul, film ini secara perlahan membongkar rahasia kelam yang tersimpan dalam rumah dan masa lalu para tokohnya.
Buto Ijo: Simbol Konsekuensi dan Janji yang Terabaikan

Dalam ‘Penunggu Rumah: Buto Ijo’, sosok raksasa hijau itu tidak hadir sekadar sebagai monster yang menakutkan. Film ini mengeksplorasi makna filosofisnya dalam folklor Jawa, di mana Buto Ijo sering kali merepresentasikan penjaga, konsekuensi dari sebuah janji, atau sisi gelam dari pilihan manusia.
Gandhi Fernando menjelaskan pendekatan ini dengan mendalam. “Dalam film ini, kami mencoba melihat Buto Ijo bukan hanya sebagai sosok menakutkan, tetapi sebagai simbol dari kesepakatan, janji, dan konsekuensi yang sering diabaikan manusia. Horornya kami bangun dari situasi yang terasa dekat, sehingga penonton bisa ikut merasakan emosi dan ketakutan para karakternya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa drama keluarga dan rahasia masa lalu menjadi jantung dari ketakutan yang dibangun. Teror yang paling membekas, menurutnya, justru datang dari konflik personal dan bayangan dari pilihan-pilihan salah yang pernah dibuat.
Dengan pemeran yang juga melibatkan Meryem Hasanah, Adnan Djani, Pratito Wibowo, dan Arie Dwi Andhika, ‘Penunggu Rumah: Buto Ijo’ menjanjikan sebuah pengalaman horor yang kaya lapisan.
Film ini tidak hanya ingin membuat penonton berteriak, tetapi juga merenungkan tentang konsekuensi, janji, dan hantu-hantu dari masa lalu yang mungkin sedang kita tinggali.















