Child Grooming: Apakah Perempuan Bisa Menjadi Pelaku? Berikut Faktanya
Child grooming adalah proses manipulatif terhadap anak yang dapat dilakukan siapa saja, tidak hanya laki-laki terhadap perempuan.
SHOWBIZLINE – Di era digital, istilah child grooming semakin sering muncul dalam diskusi perlindungan anak. Berbagai kasus yang tersebar di media sosial dan berita menunjukkan bahwa predator tidak selalu menggunakan kekerasan fisik di awal.
Tetapi justru memanfaatkan hubungan emosional, kepercayaan, dan keluguan anak untuk tujuan eksploitasi.
Sebagian publik sering secara tidak sadar memandang grooming sebagai fenomena yang identik dengan laki-laki sebagai pelaku dan perempuan sebagai korban.
Padahal, data dari organisasi internasional dan laporan studi ilmiah menunjukkan gambaran yang lebih kompleks, grooming bisa dilakukan oleh siapa saja—termasuk perempuan—dan korban pun bisa laki-laki maupun perempuan.
Memahami fenomena ini dengan benar penting agar upaya pencegahan dan perlindungan anak tidak bias dan efektif.
Apa Itu Child Grooming?

Menurut NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children) di Inggris, grooming adalah sebuah proses di mana seseorang membangun hubungan emosional dengan anak dengan tujuan manipulasi, eksploitasi, atau pelecehan.
Grooming merupakan perilaku yang terencana, bertahap, dan manipulatif, bukan sekadar interaksi sosial biasa.
Definisi serupa juga disampaikan oleh National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) di Amerika Serikat, yang menggarisbawahi bahwa grooming sering terjadi secara daring (online) maupun luring (offline).
Bahkan Interpol dan Europol, dalam laporan mereka, menunjukkan bahwa predator menggunakan berbagai platform digital untuk mencari “pintu masuk” kepada anak, termasuk game, media sosial, dan aplikasi obrolan.
Perempuan Bisa Saja Jadi Pelaku Grooming
Ada kecenderungan stereotip di masyarakat yang mengasosiasikan grooming dengan laki-laki predator dan perempuan korban.
Namun kenyataannya jauh lebih kompleks. Kasus-kasus yang dilaporkan di berbagai negara menunjukkan bahwa:
Perempuan juga dapat menjadi pelaku grooming, baik secara langsung maupun melalui media digital
Anak laki-laki juga menjadi korban grooming, baik daring maupun di lingkungan nyata
Perlu dicatat bahwa karena stigma sosial, kasus grooming dengan pelaku perempuan atau korban laki-laki sering kali underreported (tidak banyak dilaporkan).
Sehingga data statistiknya mungkin tidak sepenuhnya akurat, tetapi keberadaannya diakui oleh sejumlah lembaga perlindungan anak.
Tanpa menyebutkan detail sensasional, dalam berbagai laporan media dan pengadilan internasional (AS, Inggris, Australia), terdapat kasus:
Guru perempuan yang membangun relasi emosional intens dengan murid laki-lakinya, dimulai dari perhatian khusus, pesan pribadi, hingga eksploitasi;
Pengasuh atau babysitter perempuan yang memanipulasi anak asuh secara emosional;
Figur online perempuan yang melakukan grooming melalui game, media sosial, atau forum daring.
Laporan dari Child Abuse & Neglect Journal dan data dari UNICEF menunjukkan bahwa grooming online maupun offline dapat menargetkan anak tanpa memandang jenis kelamin.
Hal ini menjadi penting karena stereotip gender sering kali menghambat deteksi dini dan dukungan bagi korban yang tidak sesuai pola umum.
Modus Grooming: Langkah Demi Langkah
Pelaku grooming umumnya tidak langsung melakukan tindakan eksploitasi. Mereka menggunakan beberapa strategi manipulatif:
Membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan korban, misalnya melalui pujian atau perhatian khusus
Menciptakan rasa rahasia atau “hubungan istimewa”, sehingga anak merasa hubungan itu hanya untuk mereka berdua
Mengisolasi anak dari lingkungan pendukung, seperti teman atau orang tua
Mengusulkan kontak atau perilaku yang tidak pantas secara bertahap
Dalam dunia digital, pelaku bisa memanfaatkan identitas palsu, permainan psikologis, dan konten yang memancing keterlibatan emosional anak.
Pelaku sering kali menunggu momen ketika anak sedang rentan—misalnya saat merasa kesepian, kurang perhatian, atau sedang mencari pengakuan sosial.
Dampak Psikologis yang Mendalam
Child grooming bukan sekadar “masalah daring” atau “kesalahpahaman anak”. Dampaknya bisa sangat serius, baik fisik maupun mental. Menurut UNICEF, korban grooming sering mengalami:
Trauma emosional jangka panjang
Kecemasan, depresi, dan gangguan kepercayaan
Rasa malu dan isolasi sosial
Kesulitan dalam hubungan interpersonal di masa dewasa
Bahkan ketika tindakan eksploitasi tidak terjadi, fase manipulasi emosional itu sendiri sudah cukup membuat anak mengalami gangguan psikologis.
Hal ini diperkuat oleh sejumlah penelitian dalam Child Abuse & Neglect Journal yang mencatat bahwa dampak psikologis grooming bisa bersifat kronis jika tidak ditangani dengan dukungan yang memadai.
Perlindungan dan Pencegahan: Langkah Nyata
Melindungi anak dari grooming bukan hanya urusan anak itu sendiri, melainkan juga tanggung jawab orang tua, pendidik, dan masyarakat luas. Beberapa strategi yang direkomendasikan oleh UNICEF dan NCMEC antara lain:
Mendidik anak tentang batasan pribadi dan teknologi sejak dini
Melakukan pengawasan digital yang bijaksana, tanpa menghilangkan ruang kebebasan anak
Membuka komunikasi terbuka agar anak merasa aman bercerita tanpa takut dihakimi
Mengenali tanda-tanda peringatan dini, seperti perubahan perilaku, kecemasan berlebihan terhadap perangkat digital, atau komunikasi rahasia yang tidak dijelaskan secara terbuka
Semua Anak Bisa Menjadi Target Grooming
Child grooming adalah proses manipulatif yang jauh lebih luas daripada stereotip gender yang umum dipahami.
Sementara pelaku laki-laki dan korban perempuan memang sering dilaporkan, grooming tidak eksklusif terhadap pola itu saja.
Anak laki-laki bisa menjadi korban dan perempuan bisa menjadi pelaku, terutama di era digital di mana interaksi tidak lagi terbatas oleh ruang fisik.
Memahami fenomena ini secara holistik — berdasarkan fakta, pola perilaku, dan konteks sosial — adalah langkah penting dalam melindungi anak secara efektif.
Perlindungan anak bukan hanya soal reaktif terhadap kasus, tetapi juga preventif melalui pendidikan, komunikasi, dan kerjasama komunitas.





















