Home Feature & Community FOMO dalam Berolahraga: Saat Tren Sehat Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
Feature & Community

FOMO dalam Berolahraga: Saat Tren Sehat Bisa Jadi Pedang Bermata Dua

FOMO dalam berolahraga makin marak seiring tren fitness di media sosial. Artikel ini membahas sisi positif dan risiko kesehatan olahraga karena FOMO menurut studi dan pandangan medis.

Ilustrasi berbagai alat olahraga (Istimewa)

SHOWBIZLINE – Beberapa tahun terakhir, olahraga tak lagi sekadar soal kesehatan. Ia menjelma menjadi gaya hidup, identitas, bahkan konten media sosial.

Lari marathon, gowes jarak jauh, kelas gym intens, hingga tantangan olahraga daring ramai dibagikan dan dirayakan.

Di balik semangat kolektif itu, muncul satu fenomena yang diam-diam memengaruhi banyak orang: FOMO dalam berolahraga.

FOMO (Fear of Missing Out) adalah rasa takut tertinggal dari sesuatu yang dianggap penting atau menyenangkan.

Dalam konteks olahraga, FOMO kerap mendorong seseorang ikut berlatih atau mengikuti tren tertentu bukan karena kesiapan tubuh, melainkan karena tekanan sosial.

Fenomena ini sudah menjadi perhatian para ahli kesehatan dan psikologi, karena dampaknya bisa positif, namun juga berisiko jika tidak disikapi dengan bijak.

Apa yang Dimaksud FOMO dalam Olahraga?

American Psychological Association (APA) mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan sosial yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman orang lain.
Ilustrasi lari maraton (Istimewa)

American Psychological Association (APA) mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan sosial yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman orang lain.

Saat konsep ini masuk ke dunia olahraga, FOMO dapat muncul ketika seseorang merasa harus ikut berlari, bersepeda, atau berlatih intens hanya karena lingkungan sekitarnya melakukan hal yang sama.

Media sosial berperan besar dalam memperkuat fenomena ini. Unggahan pencapaian jarak lari, tubuh ideal, atau medali lomba dapat menciptakan standar tak tertulis tentang “sehat” yang belum tentu realistis bagi semua orang.

Tanpa disadari, olahraga yang seharusnya menyehatkan justru dijalani dengan rasa terpaksa.

Sisi Positif FOMO: Pemantik Gaya Hidup Aktif

Meski sering dipandang negatif, FOMO dalam olahraga tidak selalu buruk. Beberapa studi justru menunjukkan sisi positifnya.
Sigi Wimala melakukan olahraga hiking (Instagram/sigiwimala)

Meski sering dipandang negatif, FOMO dalam olahraga tidak selalu buruk. Beberapa studi justru menunjukkan sisi positifnya.

Penelitian dalam Journal of Medical Internet Research mencatat bahwa paparan konten olahraga di media sosial dapat meningkatkan motivasi dan niat beraktivitas fisik, terutama pada individu yang sebelumnya kurang aktif.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, tren olahraga bisa menjadi pintu masuk menuju kebiasaan yang lebih sehat.

World Health Organization (WHO) sendiri menyoroti bahwa tantangan global saat ini adalah kurangnya aktivitas fisik.

Jika FOMO mampu mendorong seseorang untuk mulai bergerak, maka efek awal ini bisa bernilai positif.

Selain itu, olahraga berbasis komunitas sering kali membuat seseorang lebih konsisten. Rasa kebersamaan dan takut tertinggal dari kelompok dapat menjadi dorongan untuk tetap berlatih secara rutin.

Risiko Kesehatan di Balik Olahraga karena FOMO

Masalah muncul ketika FOMO mengalahkan kesadaran tubuh. American College of Sports Medicine (ACSM) memperingatkan bahwa peningkatan intensitas olahraga secara mendadak tanpa adaptasi dapat meningkatkan risiko cedera.

Banyak kasus nyeri sendi, cedera otot, hingga kelelahan ekstrem terjadi pada mereka yang langsung mengikuti pola latihan berat demi mengejar tren.

Selain risiko fisik, tekanan psikologis juga tak bisa diabaikan. Studi dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa paparan konten kebugaran di media sosial dapat meningkatkan kecemasan terhadap citra tubuh.

Olahraga yang semula bertujuan menyehatkan berubah menjadi sumber stres, rasa bersalah, dan perbandingan diri yang tidak sehat.

Dalam kondisi ekstrem, dorongan FOMO bahkan bisa memicu exercise addiction—kecanduan olahraga—di mana seseorang merasa bersalah atau cemas jika tidak berlatih, meski tubuhnya sudah memberi sinyal kelelahan.

Pandangan Medis: Sehat Itu Konsisten, Bukan Ikut Tren

Para ahli kesehatan sepakat bahwa olahraga yang baik bukanlah yang paling populer, melainkan yang paling bisa dijalani secara berkelanjutan.

WHO merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, tanpa harus mengikuti tren ekstrem atau kompetisi tertentu.

Banyak dokter olahraga menekankan bahwa tubuh setiap orang memiliki kapasitas dan batas yang berbeda. Prinsipnya sederhana, olahraga seharusnya meningkatkan kualitas hidup, bukan menambah beban fisik maupun mental.

Menyikapi FOMO dengan Lebih Sehat

FOMO dalam olahraga bisa menjadi pemicu awal untuk hidup lebih aktif, tetapi perlu diimbangi dengan kesadaran diri.

Mendengarkan sinyal tubuh, memilih jenis olahraga yang sesuai kemampuan, serta memberi waktu istirahat yang cukup adalah kunci utama.

Olahraga tidak harus selalu diunggah atau dibandingkan. Manfaat terbesarnya justru sering dirasakan secara personal dan jangka panjang.

Sebuah Fenomena Nyata

FOMO dalam berolahraga adalah fenomena nyata di era media sosial. Ia bisa menjadi dorongan positif untuk bergerak dan hidup lebih sehat, namun juga berpotensi membawa risiko jika dijalani tanpa perhitungan.

Olahraga yang ideal bukan tentang siapa yang paling kuat atau paling konsisten ikut tren, melainkan siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan kebutuhan diri sendiri.

Pada akhirnya, sehat bukan soal tidak tertinggal, tetapi soal menemukan ritme yang tepat dan berkelanjutan.

Previously

Marsha Aruan Sampai Fajar Sadboy Main di Web Series ‘Yang Penting Ada Cinta’

Next

Tampilan Etnik Glam Mahalini Saat di Maroko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement