Benarkah Sugar Rush Bikin Anak Hiperaktif? Ini Penjelasan Ilmiah soal Gula dan ADHD
Apakah sugar rush benar membuat anak hiperaktif? Simak penjelasan ilmiah tentang hubungan konsumsi gula, hiperaktivitas, dan ADHD berdasarkan riset dan rekomendasi WHO.
SHOWBIZLINE – Sudah lazim di sebagian masyarakat yang meyakini setiap kali anak tampak lebih aktif setelah mengonsumsi makanan manis, gula langsung menjadi tersangka utama.
Istilah sugar rush kembali ramai dibicarakan, terutama setelah dr Meta Hanindita, SpA, menyinggungnya dalam sebuah podcast dan menegaskan bahwa konsep sugar rush yang mengaitkan gula dengan hiperaktivitas adalah mitos.
Meski demikian, pernyataan tersebut kembali memicu perdebatan lama mengenai apakah konsumsi gula benar-benar dapat memicu perilaku hiperaktif pada anak atau bahkan berkaitan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Di tengah kekhawatiran orang tua, penting untuk melihat isu sugar rush dan ADHD berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia.
Apa Itu Sugar Rush dan Mengapa Istilah Ini Populer?
Sugar rush adalah istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak terlihat lebih aktif, gelisah, atau sulit diam setelah mengonsumsi makanan dan minuman manis.
Dalam pemahaman umum, lonjakan kadar gula darah diyakini memberikan energi berlebih secara tiba-tiba yang kemudian memicu hiperaktivitas.
Namun, sugar rush bukan istilah medis resmi dan tidak tercantum dalam literatur diagnosis kesehatan anak. Konsep ini lebih banyak berkembang dari pengalaman sehari-hari orang tua, terutama dalam situasi seperti pesta ulang tahun atau acara keluarga yang penuh stimulasi.
Dalam konteks tersebut, anak memang cenderung lebih aktif karena suasana ramai, interaksi sosial, serta rangsangan lingkungan yang intens.
Apakah Gula Terbukti Menyebabkan Hiperaktivitas?
Berbagai penelitian telah menguji anggapan bahwa gula menyebabkan hiperaktivitas pada anak. Salah satu kajian besar yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA) oleh Wolraich dkk. menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi gula tidak terbukti menjadi lebih hiperaktif atau mengalami penurunan kemampuan berpikir dibandingkan anak yang tidak mengonsumsi gula atau menggunakan pengganti gula.
Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dimuat di Journal of Affective Disorders oleh Del-Ponte dkk. Studi longitudinal tersebut tidak menemukan kaitan yang jelas antara konsumsi gula dan risiko ADHD pada anak usia sekolah.
Sejumlah penelitian lain di Amerika Serikat dan Eropa juga secara konsisten tidak menemukan hubungan langsung antara asupan gula dan hiperaktivitas.
Menariknya, beberapa studi mencatat bahwa perubahan perilaku lebih sering dilaporkan oleh orang tua dibandingkan hasil observasi langsung peneliti. Kondisi ini dapat menimbulkan expectancy bias, yaitu ketika keyakinan awal bahwa gula membuat anak hiperaktif memengaruhi cara perilaku anak dinilai.
Dalam sejumlah penelitian, orang tua melaporkan anak tampak lebih aktif setelah makan manis, meskipun dalam pengamatan terkontrol perubahan tersebut tidak terlihat signifikan.
Memahami ADHD sebagai Gangguan Neurodevelopmental
ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang berkaitan dengan perkembangan otak sejak dini. Gangguan ini bukan disebabkan oleh pola makan tertentu, termasuk konsumsi gula, dan tidak muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan berbagai tinjauan ilmiah, ADHD bersifat multifaktorial.
Faktor genetika memegang peran besar dalam ADHD, dengan tingkat heritabilitas yang tinggi berdasarkan studi keluarga dan kembar.
Tinjauan dalam Nature Reviews Neuroscience menegaskan bahwa faktor genetik, terutama yang berkaitan dengan sistem neurotransmiter seperti dopamin, menjadi kontributor dominan dalam perkembangan ADHD.
Penelitian neuroimaging juga menemukan perbedaan struktur dan fungsi pada area otak yang mengatur perhatian dan kontrol impuls.
Selain itu, faktor prenatal dan perinatal seperti paparan alkohol atau tembakau selama kehamilan, kelahiran prematur, serta berat lahir rendah dapat meningkatkan risiko ADHD.
Lingkungan awal kehidupan turut berperan melalui interaksi dengan faktor genetik, tetapi tidak berdiri sebagai penyebab tunggal.
Apakah Gula Bisa Memperburuk Gejala ADHD?
Meski tidak menjadi penyebab ADHD, pola makan termasuk konsumsi gula dapat memengaruhi bagaimana gejala muncul dalam keseharian. Tinjauan ilmiah di The Lancet Psychiatry menyebutkan bahwa diet berperan sebagai pemodulasi gejala, bukan penyebab utama ADHD.
Pada sebagian anak, konsumsi gula berlebihan dapat membuat gejala seperti sulit fokus atau impulsivitas terasa lebih menonjol, terutama jika disertai kurang tidur dan pola makan tidak seimbang.
Penelitian di Journal of Affective Disorders juga menunjukkan bahwa konsumsi tinggi gula dan minuman berpemanis sering berkaitan dengan kualitas diet yang lebih rendah secara keseluruhan.
Pola makan yang rendah protein, serat, dan mikronutrien penting dapat memengaruhi fungsi kognitif dan regulasi emosi anak. Namun hubungan ini bersifat tidak langsung.
Rekomendasi Pembatasan Gula pada Anak
Membatasi gula bukan berarti melarang anak sepenuhnya dari makanan manis. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan frekuensinya. World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 10 persen total energi harian, dan idealnya di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan tambahan.
Pada anak usia sekolah, batas tersebut setara dengan sekitar 25 gram gula tambahan per hari atau sekitar enam sendok teh. Jumlah ini dapat dengan mudah tercapai hanya dari satu botol minuman manis kemasan berukuran 250–300 mililiter yang mengandung sekitar 20–30 gram gula.
Gula tambahan yang perlu dibatasi adalah gula dalam minuman manis, permen, biskuit, kue, dan makanan ultra-proses. Sementara gula alami dalam buah dan susu tidak termasuk dalam kategori tersebut karena disertai serat, protein, dan mikronutrien yang membantu penyerapan lebih stabil.
Memahami perbedaan antara perilaku anak yang sesekali lebih aktif dan kondisi ADHD yang merupakan gangguan perkembangan saraf menjadi penting agar orang tua tidak menyederhanakan persoalan pada satu jenis makanan. Isu sugar rush menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan, kondisi emosional, serta keseharian yang lebih luas.



















