Kata Sineas Indonesia Chandra Liow Usai Menonton Avatar: Fire and Ash
Sineas Indonesia Chandra Liow memuji skala epik dan pengalaman emosional setelah menonton Avatar: Fire and Ash. Simak ulasan lengkapnya tentang produksi dan kesan menonton film terbaru James Cameron.
SHOWBIZLINE – Sutradara sekaligus kreator konten Indonesia, Chandra Liow, memberikan kesan mendalam setelah menyaksikan gala perdana film Avatar: Fire and Ash karya James Cameron di Jakarta Selatan.
Ia menilai skala kemegahan adegan dalam film ini benar-benar melampaui ekspektasi, menghadirkan pengalaman sinematis yang jarang ditemui di layar lebar.
Menurut Chandra, film ini bukan sekadar tontonan fantasi, melainkan sebuah perjalanan epik yang membawa penonton seolah masuk ke dunia lain.
Chandra mengungkapkan bahwa kombinasi visual, desain suara, aksi, serta skala adegan yang luar biasa membuat dirinya tidak ingin berhenti menonton meski durasi film mencapai tiga jam.
Ia menekankan bahwa Avatar: Fire and Ash berhasil menjadi jembatan untuk “escape from reality,” sebuah pelarian dari hiruk pikuk dunia nyata menuju imajinasi penuh warna di Pandora.
Skala Adegan yang Melampaui Ekspektasi

Dalam wawancara yang dikutip dari Antara, Chandra menyoroti betapa besar skala adegan yang ditampilkan.
“Gua akan point out scale, kenapa, karena grande banget skala adegannya. Kita enggak bicara cuma 1-2 orang berantem, kita bicara perang,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa film ketiga dari saga Avatar menghadirkan intensitas konflik yang lebih luas, memperlihatkan peperangan besar yang melibatkan banyak karakter dan dunia yang semakin kompleks.
Proses Produksi dan Efek Visual

Chandra sempat terkejut ketika mengetahui bahwa proses syuting dilakukan di Selandia Baru selama 18 bulan.
Ia mengira sebagian besar adegan hanya dibuat di studio dengan efek praktis, namun ternyata pengambilan gambar dilakukan secara nyata.
Hal ini membuat film terasa lebih realistis. James Cameron bersama tim produksi menggandeng lebih dari 1.500 kru, dengan dukungan studio Wētā FX yang mengerjakan lebih dari 3.300 shot visual efek.
Nama-nama besar seperti Russell Carpenter (sinematografer Titanic), Dylan Cole (desainer produksi Maleficent), hingga Joe Letteri (supervisor VFX pemenang lima Oscar) turut memperkuat kualitas produksi.
Pengalaman Menonton dan Resonansi Emosional
Chandra menambahkan bahwa menonton Avatar: Fire and Ash membuatnya ingin terus berada di dunia Pandora.
“Terus rasanya pingin kabur ke dunia yang lain, ya kan? Dan film adalah satu jembatan yang akan lu kabur, lu escape from reality gitu dengan nonton film. Dan lu akan 1000 persen kabur dari realita dengan nonton film Avatar,” katanya.
Ungkapan ini menunjukkan bagaimana film mampu memberikan resonansi emosional yang kuat, bukan hanya sekadar hiburan visual.
Deretan Bintang dan Harapan Penonton
Film ini kembali dibintangi Sam Worthington, Zoe Saldaña, Sigourney Weaver, Stephen Lang, hingga Kate Winslet.
Kehadiran mereka memperkuat kesinambungan saga Avatar sekaligus menambah daya tarik bagi penonton global.
Dengan kombinasi teknologi mutakhir, cerita epik, dan jajaran aktor papan atas, Avatar: Fire and Ash dipandang sebagai salah satu film paling ambisius di akhir 2025.















