Kisah Mistis Sule, Melawak di Kawasan Gunung Disaksikan Penonton Gaib
Kisah mistis Sule terungkap di podcast RJL. Pengalaman manggung komedi di daerah pegunungan dengan penonton gaib yang tiba-tiba muncul dan menghilang tanpa suara.
SHOWBIZLINE – Bagi Sule, panggung komedi adalah rumah kedua. Di sanalah tawa biasanya lahir, sorak penonton menjadi energi, dan lelah terbayar.
Namun satu pengalaman manggung ini justru meninggalkan kesan yang tak pernah bisa ia lupakan. Bukan karena penontonnya sedikit. Bukan pula karena lawakannya gagal.
Melainkan karena—menurut yang ia rasakan dan lihat sendiri—sebagian penonton bukan berasal dari dunia yang sama.
Kisah ini Sule ceritakan dengan tenang dalam podcast RJL5. Tanpa dramatisasi. Justru ketenangan itu membuat ceritanya terasa semakin merinding.
Ajakan Manggung di Kawasan Gunung, Awal dari Kejanggalan

Saat itu Sule sedang tidak memiliki jadwal acara. Seorang teman mengajaknya manggung sekadar untuk mengisi waktu.
Mereka pergi menuju sebuah wilayah pegunungan. Sule sengaja tidak menyebutkan daerahnya. Perjalanan melewati perkotaan, lalu perkampungan, hingga akhirnya tiba di kawasan gunung yang sunyi. Rumah bisa dihitung dengan jari.
Di sana hanya ada satu rumah adat, tempat acara digelar. Ketua adat—atau ketua dusun—menyambut mereka.
“Apapun itu, yang gue rasain, yang gue liat… kejadiannya dulu gini. Gunung banget. Dan itu ada rumah adat itu doang. Yang lainnya jauh… jauh banget,” kata Sule dlam podcast tersebut.
Sejak saat itu, perasaan aneh mulai muncul. Sule sempat bertanya dalam hati: siapa sebenarnya yang akan menonton pertunjukan ini?
Penonton Sedikit, Panggung Tetap Berjalan

Sebelum naik panggung, Sule mengamati situasi. Penonton hanya sekitar tujuh sampai delapan orang. Beberapa tampak seperti pedagang. Suasananya biasa saja.
“Penontonnya cuma 7 atau 8 orang… ya gapapa lah, namanya juga menghibur,” ujarnya yang saat itumasih di balik panggung.
Ayah dari Rizky Febian ini mengira mungkin yang menonton hanyalah keluarga ketua adat. Meski sepi, Sule tetap profesional. Namun semua berubah saat MC memanggilnya untuk tampil.
Panggung Penuh, Penonton Mendadak Membanjir
Begitu Sule keluar ke panggung, matanya menangkap sesuatu yang tak masuk akal. Dalam sekejap, area yang tadinya sepi berubah menjadi lautan manusia.
“Penuh. Penuh banget. Ini dari mana?” tutur Sule menceritakan keheranannya yang saat itu masi dipendam.
Pun demikian, Sule sempat merasa senang. Bagi seorang komedian, banyak penonton adalah kebahagiaan. Namun keanehan berikutnya segera terasa.
Tertawa Hanya dari Delapan Orang
Sule mulai melawak. Materi demi materi ia keluarkan. Tapi yang tertawa hanya penonton di barisan depan—delapan orang yang sama sejak awal.
“Yang ketawa cuman yang depan itu. Yang delapan orang itu,” imbuh Sule.
Penonton lainnya hanya diam. Bengong. Tidak tertawa. Tidak berbincang. Tidak bereaksi. “Pokoknya banyak banget itu. Itu nontonnya gini aja. Bengong aja,” lanjutnya.
Yang lebih aneh, ia tidak mengingat detail wajah atau pakaian penonton. “Ga inget sama sekali mereka pake baju apa… kebanyakan putih, ada yang hitam,” imbuh Sule.
Penonton Menghilang dalam Hitungan Detik
Setelah pertunjukan selesai, Sule turun dari panggung. Baru melangkah sekitar lima sampai tujuh langkah, ia menoleh ke belakang.
Dan saat itulah kejanggalan terbesar terjadi. “Gue ngeliat… penonton ga ada.”
Tidak ada suara langkah. Tidak ada keributan. Tidak ada tanda-tanda orang bubar. “Cepet banget pulangnya. Kan harusnya kedengeran.”
Area yang tadinya penuh menjadi kosong. Yang tersisa hanya delapan orang sejak awal—keluarga ketua adat—yang kemudian mendekat dan meminta foto.
“Yang minta foto itu yang delapan orang itu. Sisanya? Menghilang begitu saja,” paparnya.
Bukan Seperti Paranormal
Sule tidak pernah mengklaim dirinya bisa melihat makhluk gaib ebagaimana umumnya pada paranormal. Ia hanya menceritakan apa yang ia alami. Apa yang ia rasakan. Dan apa yang ia lihat.
Pengalaman ini tidak membuatnya trauma, tapi meninggalkan tanda tanya besar—bahwa dunia hiburan, panggung, dan manusia terkadang bersinggungan dengan hal-hal yang tak kasatmata.
Di atas panggung itu, Sule tetap melawak. Tetap profesional. Tanpa sadar bahwa mungkin… ia sedang menghibur lebih dari satu dunia.















