Home Beauty & Wellness Soft Clubbing: Ketika Gym dan Studio Wellness Jadi Dunia Malam Baru Gen Z
Beauty & Wellness

Soft Clubbing: Ketika Gym dan Studio Wellness Jadi Dunia Malam Baru Gen Z

Soft clubbing adalah tren Gen Z ganti dugem dengan olahraga & wellness. Gym jadi ruang sosial baru. Simak alasan kesehatan, finansial, & perubahan definisi 'seru'.

Soft Clubbing menjadi trend agenda anak muda (Istimewa)

SHOWBIZLINE – Bagi banyak anak muda, khususnya Gen Z, definisi “malam yang seru” kini mengalami transformasi menarik. Alih-alih menghabiskan waktu di klub hingga dini hari, mereka justru memilih untuk berkeringat di gym, mengikuti kelas silent disco cycling, atau merilekskan diri dalam sesi sound bath healing. Fenomena ini dikenal dengan nama soft clubbing, sebuah tren di mana olahraga dan kegiatan wellness mengambil alih peran hiburan malam.

Soft clubbing adalah tentang bersenang-senang dengan cara yang lebih sehat. Tidak ada alkohol berlebih, tidak ada “hangover” keesokan harinya, yang ada adalah tubuh yang bugar dan tidur yang berkualitas.

Seperti dilaporkan Athletech News, pergeseran ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Di Amerika Serikat, banyak pusat kebugaran sengaja mendesain kelas olahraga mereka sebagai ajang sosial, mengubah gym menjadi ruang berkumpul tempat orang bisa berkenalan, berbagi tujuan hidup sehat, dan pulang dengan energi baru, bukan kelelahan.

Di Indonesia, terutama di kota besar seperti Jakarta, fenomena ini juga terasa kuat. Ramainya gym sebelum jam kerja, maraknya komunitas lari di kawasan Sudirman setiap akhir pekan, hingga menjamurnya studio Pilates, yoga, boxing, dan strength training menjadi bukti bahwa gaya hidup sehat telah menjadi bagian dari hiburan itu sendiri.

Apa yang Membuat Gen Z Memilih Soft Clubbing?

1. Kesehatan sebagai Prioritas Utama

Salah satu pendorong utama adalah meningkatnya kesadaran akan kesehatan fisik dan mental. Gen Z tumbuh menyaksikan generasi sebelumnya bergelut dengan burnout dan gaya hidup tidak seimbang. Dari sana, muncul keinginan untuk hidup lebih terencana.

Olahraga menawarkan imbal hasil jangka panjang: tidur lebih nyenyak, mood lebih stabil, dan tubuh lebih bugar. Sebaliknya, dugem sering dikaitkan dengan kelelahan, kecemasan, dan rutinitas yang berantakan — hal-hal yang justru ingin mereka hindari.

2. Gym sebagai Ruang Sosial Baru

Bagi Gen Z, fitness bukan lagi aktivitas yang soliter. Ia telah menjelma menjadi sebuah ekosistem sosial. Adanya komunitas lari, “gym buddies”, kelas grup, atau klub bersepeda menciptakan ruang untuk bertemu dan berjejaring dengan orang-orang yang memiliki visi sama.

Relasi dibangun melalui konsistensi dan tujuan bersama, bukan tekanan untuk minum atau bertahan hingga subuh. Media sosial turut memperkuat tren ini, di mana unggahan progres latihan atau pencapaian personal terasa lebih aspiratif dibandingkan foto-foto pesta larut malam.

3. Pertimbangan Finansial yang Lebih Sadar

Ada pula faktor ekonomi yang tak bisa diabaikan. Bersenang-senang di klub di kota besar bisa sangat menguras kantong — mulai dari tiket masuk, minuman, hingga transportasi. Sementara itu, biaya keanggotaan gym atau kelas kebugaran dianggap sebagai investasi jangka panjang yang lebih bernilai.

Gen Z dikenal lebih sadar dalam mengelola keuangan dan lebih memilih menghabiskan uang untuk pengalaman yang memberikan manfaat berkelanjutan.

4. Redefinisi ‘Kesenangan’

Di balik semua alasan tersebut, terjadi pergeseran makna mendasar tentang apa itu “seru”. Bagi Gen Z, kesenangan tidak lagi identik dengan begadang hingga pagi. Justru, bangun pagi dengan tubuh segar dan pikiran jernih dianggap lebih memuaskan.

Mengejar target latihan atau menyelesaikan tantangan kebugaran memberikan kepuasan yang lebih dalam dan bertahan lama dibandingkan euforia sesaat di lantai dansa.

Soft clubbing bukan sekadar tren sementara. Ia merefleksikan perubahan nilai pada generasi muda yang lebih memilih keseimbangan hidup, koneksi yang bermakna, dan investasi pada diri sendiri. Di dunia yang semakin cepat, mungkin inilah cara mereka menemukan kegembiraan yang sesungguhnya.

Previously

Masih Tayang di Bioskop, Ini Update Jumlah Penonton Agak Laen 2

Next

Dian Sastrowardoyo Unggah Foto 30 Tahun Lalu, Cantiknya Fresh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement