Home Feature & Community Mengapa Pacaran Lama Belum Tentu Menjamin Pernikahan Langgeng? Ini Kata Psikolog
Feature & Community

Mengapa Pacaran Lama Belum Tentu Menjamin Pernikahan Langgeng? Ini Kata Psikolog

Psikolog Ayu Mas Yoca Hapsari menegaskan pacaran lama tidak menjamin pernikahan langgeng. Adaptasi besar, reality shock, hingga perbedaan arah pertumbuhan bisa menjadi tantangan jika komunikasi dan fondasi hubungan belum matang.

Pacaran lama tak menjamin pernikahan langgeng (Istimewa)

SHOWBIZLINE.COM – Banyak pasangan beranggapan bahwa lamanya waktu berpacaran bisa menjadi jaminan hubungan yang kuat setelah menikah. Namun, hal itu bukan kebenaran mutlak dalam prakteknya.

Menurut Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog, hal tersebut tidak selalu benar. Ia menegaskan bahwa kedewasaan hubungan tidak diukur dari durasi pacaran, melainkan dari kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, dan tumbuh bersama menghadapi perubahan hidup.

Dikutip dari Kompas, Ayu menjelaskan bahwa tanpa fondasi yang matang, hubungan bisa terasa rapuh ketika dihadapkan pada realitas pernikahan.

Meski bertahun-tahun bersama, banyak pasangan yang interaksinya tidak pernah benar-benar berkembang.

Adaptasi Besar Setelah Menikah

Pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga dengan latar belakang berbeda. Proses adaptasi ini sering kali menimbulkan tantangan baru.

“Kemudian ada tanggung jawab, pressure yang lebih nyata, misalnya keuangan, pembagian peran, ekspektasi dari kedua belah pihak keluarga,” jelas Ayu.

Tantangan semakin kompleks ketika pasangan langsung dikaruniai anak, sehingga komunikasi dan kerja sama yang matang menjadi kunci penting.

Rasa Nyaman Bukan Selalu Cerminan Kecocokan

Lamanya pacaran sering disalahartikan sebagai tanda kecocokan. Menurut Ayu, rasa nyaman yang muncul karena sudah terbiasa bersama tidak selalu berarti pasangan benar-benar saling mengenal secara mendalam.

“Hubungan yang lama bertahan itu bisa jadi bukan karena saling kenal secara mendalam, tapi karena sudah terbiasa dan enggan memulai lagi dari awal,” ujarnya.

Kondisi ini bisa memicu konflik setelah menikah jika tidak ditopang dengan kedekatan emosional yang matang.

Reality Shock dalam Pernikahan

Pasangan yang sudah lama berpacaran sering kali membangun citra ideal satu sama lain. Namun, setelah menikah, sisi manusiawi yang berbeda mulai terlihat.

“Dalam hubungan jangka panjang, seringkali pasangan membangun citra yang ideal. Tapi setelah menikah, muncul sisi manusiawi yang berbeda, hal ini memunculkan reality shock pada pasangan,” kata Ayu.

Kebiasaan sehari-hari, kelemahan, atau perilaku yang tidak sesuai dengan bayangan ideal bisa menjadi sumber kekecewaan.

Pertumbuhan ke Arah Berbeda

Hubungan panjang tidak selalu berarti kedua individu tumbuh bersama. Ayu menuturkan bahwa perkembangan masing-masing individu bisa berjalan ke arah berbeda.

Perbedaan visi dan misi ini dapat menimbulkan ketegangan emosional yang semakin nyata setelah menikah.

Tidak Menyentuh Lapisan Paling Dalam

Menurut Ayu, hubungan pacaran panjang sering kali berjalan dalam pola yang sama dan nyaman, tetapi belum tentu menyentuh lapisan terdalam.

“Hubungannya berjalan dalam pola yang sama, nyaman, saling tahu kebiasaan, tapi belum tentu pola itu bisa menyentuh lapisan paling dalam di hubungan,” jelasnya.

Lapisan terdalam yang dimaksud mencakup kesamaan nilai hidup, visi masa depan, serta cara menghadapi konflik.

Tanpa fondasi ini, hubungan bisa terasa datar dan rapuh ketika menghadapi realitas pernikahan.

Previously

Upin & Ipin Tampilkan Sosok Orang Tua dalam Episode Spesial "Secebis Kenangan"

Next

Mengenal Perbedaan Abaya, Kaftan, dan Gamis untuk Hijabers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement