Film Komedi Horor Ghost in The Cell, Joko Anwar Angkat Isu Sosial Lewat Miniatur Penjara
Film komedi horor Ghost in The Cell karya Joko Anwar dibangun dengan set penjara dua tingkat di Bandung. Mengusung pendekatan teater, film ini menghadirkan hiburan sekaligus pesan sosial tentang dinamika masyarakat.
SHOWBIZLINE.com – Film terbaru karya Joko Anwar berjudul Ghost in The Cell menghadirkan nuansa komedi horor dengan latar penjara yang dibangun khusus untuk kebutuhan produksi.
Berbeda dari kebanyakan film yang menggunakan lokasi eksisting, tim produksi memilih membangun set penjara dua tingkat di Bandung, tepatnya di atas bekas bengkel PT Kereta Api Indonesia.
Aktor Abimana Aryasatya menuturkan bahwa seluruh set penjara dibuat menyerupai bangunan asli, lengkap dengan pagar dan sel layaknya penjara pada umumnya.
“Jadi betul-betul seperti bangun miniatur penjara kecil. Termasuk pagar di depannya semua,” ujarnya saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan pada Senin, 23 Februari 2026.
Proses Syuting di Bandung dan Jakarta

Endy Arfian menambahkan bahwa sebagian besar proses syuting dilakukan di Bandung, meski beberapa adegan juga diambil di Kuningan, Jakarta.
Ia menjelaskan pembangunan set penjara memakan waktu sekitar tiga minggu. “Kalau penjaranya kami bangun sekitar tiga mingguan untuk keseluruhan penjara. Ada luarnya, ada dalamnya, sel-selnya sebagaimana penjara pada umumnya,” katanya.
Isu Sosial dalam Ghost in The Cell
Joko Anwar menekankan bahwa film ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga membawa pesan sosial. Menurutnya, penjara dalam film adalah miniatur kehidupan rakyat.
“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” tuturnya.
Sebagai sineas, Joko percaya profesinya memiliki hak istimewa untuk menyampaikan pesan kepada publik.
“Hasil kerja kami punya potensi untuk ditonton oleh orang banyak jadi rasanya sia-sia profesi kami jika buat film yang tak ada isinya,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan tujuan utama tetap menghadirkan hiburan agar penonton tidak merasa digurui.
Pendekatan Teater dalam Sinematografi
Berbeda dari film kebanyakan, Ghost in The Cell dirancang dengan pendekatan teater. Film ini hanya memiliki 43 adegan, jauh lebih sedikit dibanding film pada umumnya yang bisa mencapai 120 adegan.
Setiap adegan berdurasi panjang sehingga membutuhkan konsentrasi penuh dari para aktor. Joko pun menggandeng jajaran aktor terbaik Indonesia untuk memastikan kualitas akting maksimal.
Joko Anwar dan Tradisi Film Komedi
Sutradara yang sebelumnya dikenal lewat film komedi Janji Joni (2005) ini kembali menggabungkan unsur hiburan dengan pesan sosial.
Ia menekankan bahwa sejak tahap naskah, karakteristik cerita sudah ditentukan sehingga membantu memilih aktor yang tepat untuk memerankan tokoh dalam film.
Dengan pendekatan genre komedi horor, Joko berharap penonton bisa terhibur sekaligus membawa pulang pesan yang relevan dengan kehidupan sosial.














