Home Showbiz & Celebrity Banjir Hujatan tapi Masih Ada yang Nonton Film Animasi ‘Merah Putih: One For All’, Mungkin Ini Alasannya!
Showbiz & Celebrity

Banjir Hujatan tapi Masih Ada yang Nonton Film Animasi ‘Merah Putih: One For All’, Mungkin Ini Alasannya!

Lantas, apa yang mendorong orang untuk menonton sebuah film yang secara luas dianggap gagal?

Film animasi Merah Putih : One For All

Showbizline – Film animasi Merah Putih: One For All bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, film ini diterpa badai kritik pedas.

Skor IMDb yang nyaris mentok di angka 1/10 dan gelombang hujatan di media sosial menjulukinya sebagai ‘aib nasional’.

Di sisi lain, sebuah fenomena unik terjadi, bioskop yang memutarnya tidak sepi sepenuhnya. Masih ada segelintir penonton yang menempati kursi, memecahkan kesunyian.

Kok Masih Ditonton Meski Ulasan Jelek?

Film animasi Merah Putih: One For All
Film animasi Merah Putih: One For All

Lantas, apa yang mendorong orang untuk menonton sebuah film yang secara luas dianggap gagal?

Ternyata, jawabannya lebih kompleks dari sekadar kualitas visual. Berikut adalah lima kemungkinan alasan tak terduga di balik masih adanya penonton yang setia menyaksikan Merah Putih: One For All.

1. Daya Pikat “Hate-Watching”: Rasa Penasaran yang Tak Terbendung

Psikologi manusia memiliki sisi unik: seringkali kita sulit mengalihkan pandangan dari sesuatu yang dianggap buruk. Fenomena ini, yang dikenal sebagai hate-watching, menjadi pendorong utama.

Banyak penonton yang sengaja membeli tiket bukan untuk terhibur, melainkan untuk memuaskan rasa penasaran.

Mereka ingin menyaksikan langsung seberapa buruk animasinya, ingin menjadi saksi atas kontroversi anggaran Rp 6,7 miliar yang menjadi buah bibir.

Dan akhirnya, ingin memiliki hak untuk berkomentar berdasarkan pengalaman langsung, bukan sekadar ikut-ikutan opini di Twitter.

2. Penonton Kasual yang Tak Terpengaruh Opini Online

Tidak semua orang yang datang ke bioskop adalah pengguna aktif IMDb atau pemburu ulasan film. Segmen penonton keluarga, yang hanya mencari tontonan akhir pekan yang terlihat ramah anak, menjadi pasar yang tidak terpengaruh oleh noise digital.

Judul “Merah Putih” dan poster yang menampilkan karakter anak-anak dengan nuansa nasionalis menciptakan kesan film yang edukatif dan patriotik.

Bagi mereka, film ini adalah pilihan yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama tanpa prasangka buruk.

3. Nilai Edukasi dan Semangat Kebangsaan yang Mengemuka

Terlepas dari segala kekurangan teknis, film ini mengusung tema sentral yang selalu relevan: nasionalisme dan sejarah perjuangan kemerdekaan.

Bagi beberapa orang tua dan guru, nilai edukasi ini mengalahkan pentingnya kualitas animasi. Film ini dipandang sebagai alat bantu visual untuk mengenalkan nilai-nilai kebangsaan dan kepahlawanan kepada generasi muda.

Beberapa sekolah bahkan mengorganisir nonton bareng sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, menunjukkan bahwa pesan dianggap lebih penting daripada kemasannya.

4. Solidaritas dan Dukungan untuk Industri Animasi Lokal

Di baliknya, ada sekelompok penonton yang datang dengan niat tulus: mendukung. Mereka adalah orang-orang yang menyadari bahwa industri animasi Indonesia masih dalam tahap tumbuh dan perlu diberikan ruang untuk belajar.

Dengan membeli tiket, mereka mengirimkan pesan solidaritas bahwa kegagalan satu produk bukanlah akhir segalanya, melainkan sebuah langkah dalam proses panjang untuk berkembang.

Mereka berharap dukungan ini dapat memotivasi para kreator lokal untuk bangkit dan menghasilkan karya yang lebih baik di masa depan.

5. Efek Viral yang Justru Meningkatkan Eksposur

Ironisnya, gelombang kritik yang massive justru menjadi mesin pemasaran terbaik untuk film ini. Kontroversi menciptakan buzz dan obrolan publik yang tiada henti, membuat nama Merah Putih: One For All terus disebut dan menjadi trending topic.

Popularitas yang lahir dari skandal ini menarik perhatian mereka yang tidak ingin ketinggalan pembicaraan.

Mereka menonton agar bisa ikut serta dalam diskusi, memahami konteks candaan, atau sekadar menjadi bagian dari sebuah momen kultural yang viral, meskipun alasannya adalah untuk mengkritik.

Ekosistem Dunia Modern yang Kompleks

Fenomena Merah Putih: One For All membuktikan bahwa dalam ekosistem media modern, tidak ada publisitas yang benar-benar buruk.

Sebuah film tidak lagi hanya dinilai dari kualitas teknisnya semata, tetapi juga dari narasi dan konteks sosial yang melingkupinya.

Dari rasa penasaran, solidaritas, hingga nilai edukasi, alasan orang menonton ternyata jauh lebih beragam dan kompleks daripada sekadar mencari hiburan belaka.

Previously

Carman Lee Dicurigai oleh Imigrasi Thailand, Parasnya Disebut Terlalu Muda untuk Usianya

Next

Ari Lasso Bawa Polemik Royalti ke DPR: Audit WAMI, Sindiran Tajam, dan Pembatalan Pertemuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement