Tren Matcha Latte pada Pria! Fenomena Performative Male yang Harus Dihindari Perempuan
Fenomena pria dengan matcha latte kini jadi simbol performative men. Apa artinya, dan mengapa perempuan disarankan “lari” dari tipe pria ini? Simak ulasan gaya hidup dan hubungan berikut.
Showbizline – Beberapa tahun terakhir, matcha latte menjadi minuman kekinian yang identik dengan gaya hidup sehat, estetik, dan ramah media sosial.
Warnanya yang hijau cerah dengan foam lembut menjadikannya sajian yang instagrammable. Namun, kini matcha latte bukan sekadar minuman—ia berubah menjadi simbol budaya populer.
Khususnya ketika diminum oleh pria, matcha latte kerap dikaitkan dengan fenomena performative male, yaitu laki-laki yang menampilkan minat, gaya, atau sikap progresif bukan karena tulus, melainkan demi menarik simpati perempuan.
Dari sinilah lahir lelucon satir yang dibahas oleh media seperti The Times: “Ladies, if you see a man with a matcha latte—run.”
Apa Itu Performative Male?

Istilah performative male merujuk pada tipe laki-laki yang terlihat “woke”, feminim, atau intelektual hanya di permukaan.
Mereka mungkin mengaku menyukai puisi feminis, mendengarkan musik indie, atau memilih matcha latte sebagai minuman, tetapi semua itu hanya bagian dari pencitraan.
Tujuannya jelas, tampil lembut, berbeda dari apa yang disebut sebagai maskulinitas toksik, dan seolah-olah lebih memahami perempuan.
Padahal, di balik semua itu, sering kali ada ketidakjujuran dalam niat dan perilaku. Dengan kata lain, mereka sedang “bermain peran” demi daya tarik.
Mengapa Matcha Latte Jadi Simbol?
Mengapa bukan kopi hitam atau minuman lain? Jawabannya ada pada estetika. Matcha latte dipandang sebagai minuman yang “soft”, cantik untuk difoto, dan lebih identik dengan energi feminim.
Ketika seorang pria memilihnya, publik cenderung membaca itu sebagai “isyarat visual” bahwa ia bukan pria maskulin tradisional, melainkan bagian dari estetika softboy.
Masalahnya, banyak dari mereka melakukannya hanya demi gaya, bukan karena benar-benar menyukai matcha atau peduli dengan filosofi sehat yang melekat pada teh hijau.
Itulah sebabnya The Times menuliskannya dengan nada satir bahwa pria dengan matcha latte adalah red flag.
Ladies, Mengapa Harus “Lari”?

Bukan berarti semua pria peminum matcha latte masuk kategori performative male. Namun, fenomena ini memberi peringatan agar perempuan lebih jeli.
Jika seorang pria hanya memamerkan gaya hidup estetik tanpa kedalaman sikap atau ketulusan, besar kemungkinan hubungan yang dijalani juga penuh kepura-puraan.
Performative men sering pandai berkata manis, namun tidak konsisten dalam tindakan. Mereka bisa terlihat sangat peduli di awal, tapi abai ketika komitmen diuji.
Karena itu, satir “lari dari pria dengan matcha latte” sebetulnya adalah ajakan untuk menghindari jebakan pencitraan.
Bukan Minumannya, Tapi Sikapnya
Pada akhirnya, matcha latte hanyalah minuman. Tidak ada yang salah dengan pria yang benar-benar menyukai rasanya, manfaatnya, atau tradisi teh hijau ala Jepang.
Namun, yang perlu diwaspadai adalah bagaimana minuman ini digunakan sebagai simbol performatif belaka.
Jadi, lain kali Anda melihat pria yang sibuk mengaduk matcha latte sambil berbicara tentang “feminisme” atau “self-growth” hanya untuk terlihat keren—ingatlah nasihat satir dari The Times: ladies, run.





















