5 Tanda Pria ‘Performative Male’ yang Harus Diwaspadai
Pria performative male sering terlihat manis di awal, tapi penuh pencitraan. Simak 5 tanda utama pria performative men agar kamu lebih waspada dalam hubungan.
Showbizline – Di era media sosial, banyak pria berlomba-lomba membangun citra “berbeda” dari maskulinitas tradisional. Mereka tampil lebih lembut, seolah-olah mendukung isu perempuan, bahkan memilih gaya hidup estetik seperti meminum matcha latte ketimbang kopi hitam.
Namun, tak sedikit dari mereka yang hanya melakukan itu demi pencitraan, bukan ketulusan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah performative male. Mereka bisa terlihat sempurna di permukaan, namun sebenarnya tidak konsisten antara ucapan dan tindakan.
Agar tidak terjebak dalam hubungan penuh kepura-puraan, berikut 5 tanda pria performative male yang perlu kamu kenali.
1. Terlalu Sering Memamerkan “Woke” Persona

Pria performative biasanya suka menampilkan diri sebagai sosok yang sangat terbuka, peduli isu feminisme, atau gemar membicarakan kesehatan mental.
Namun, semua itu lebih sering ditampilkan di Instagram story, caption panjang, atau obrolan kasual—alih-alih diwujudkan dalam tindakan nyata.
Jika seseorang lebih sibuk membicarakan “image peduli” dibanding benar-benar membantu atau menunjukkan empati nyata, itu bisa jadi tanda pertama.
2. Gaya Hidup Estetik yang Berlebihan
Matcha latte, tote bag dengan kutipan puitis, hingga outfit yang penuh kesan artsy—tak ada yang salah dengan itu.
Tapi ketika seorang pria menjadikan gaya hidup estetik sebagai alat utama untuk tampil “unik” atau “softboy”, sering kali ada kepura-puraan di baliknya.
Jika terlihat bahwa semua aktivitasnya hanya untuk estetika media sosial, patut diwaspadai apakah ia memang jujur pada dirinya sendiri.
3. Manis di Awal, Tapi Minim Konsistensi
Performative male sering kali luar biasa perhatian pada tahap pendekatan. Mereka bisa mengirimkan teks panjang yang terdengar penuh pengertian, mengutip buku atau lagu favoritmu, bahkan mengaku “berbeda dari laki-laki lain.”
Namun, begitu hubungan berlanjut, sikapnya sering berubah. Konsistensi dalam perhatian, tanggung jawab, dan komitmen justru memudar. Itulah perbedaan besar antara performa dan ketulusan.
4. Menggunakan Isu Perempuan Sebagai Alat Pencitraan
Tanda yang paling jelas adalah ketika seorang pria terlihat menjadikan isu-isu perempuan sebagai bahan branding dirinya.
Ia bisa mengaku mendukung kesetaraan, namun pada praktiknya masih meremehkan pasangan atau tidak menghormati perempuan di lingkarannya.
Hal ini membuat sikapnya tidak lebih dari sekadar “memakai baju progresif” untuk terlihat menarik di mata lawan jenis.
5. Selalu Ingin Terlihat Berbeda dari “Pria Kebanyakan”
Alih-alih menjadi diri sendiri, pria performative male sering menekankan betapa ia berbeda dari “cowok normal”.
Ia mungkin berkata, “Aku nggak kayak cowok lain kok,” sambil menonjolkan hal-hal kecil yang dianggap unik.
Padahal, sering kali itu hanyalah strategi untuk membuat dirinya tampak istimewa. Ironisnya, justru sikap itu yang membuatnya seragam dengan pria lain yang sama-sama penuh pencitraan.
Kenali, Jangan Terjebak
Pria performative male bisa memikat banyak hati karena tampilannya yang halus dan modern. Namun, jika tanda-tanda di atas mulai terlihat, penting bagi perempuan untuk lebih berhati-hati.
Hubungan yang sehat dibangun dengan kejujuran dan konsistensi, bukan sekadar performa yang indah di permukaan.
Ingatlah, bukan gaya hidup estetik atau matcha latte yang jadi masalah, tetapi ketidakotentikan di baliknya.




















