Home Beauty & Wellness Stres Punya Hubungan Langsung dengan Jerawat? Ini Kata Ahli
Beauty & Wellness

Stres Punya Hubungan Langsung dengan Jerawat? Ini Kata Ahli

Stres terbukti bisa memicu jerawat melalui lonjakan hormon kortisol yang meningkatkan produksi minyak di kulit. Simak penjelasan dermatologis dan cara memahami jerawat akibat tekanan emosional.

Ilustrasi jerawat karena stres (Istimewa)

ShowbizlineJerawat bukan hanya persoalan kulit, tetapi juga cerminan dari kondisi tubuh dan pikiran.

Banyak orang mengalami jerawat secara tiba-tiba saat menghadapi tekanan emosional, seperti menjelang presentasi penting, ujian, atau konflik pribadi.

Fenomena ini dikenal sebagai stress acne, dan menurut para ahli dermatologi, bukan sekadar kebetulan.

Stres memiliki dampak fisiologis yang nyata terhadap kulit, terutama melalui mekanisme hormonal yang memicu produksi minyak berlebih.

Apa yang Terjadi pada Tubuh?

Saat tubuh mengalami stres, sistem endokrin melepaskan hormon kortisol dan corticotropin-releasing hormone (CRH). Kedua hormon ini merangsang kelenjar sebasea di kulit untuk memproduksi lebih banyak sebum.

Menurut Dr. Michelle Henry, dermatologis asal New York, CRH secara langsung meningkatkan aktivitas kelenjar minyak yang kemudian menyumbat pori-pori dan memicu peradangan.

Jerawat yang muncul akibat stres cenderung lebih meradang, lebih besar, dan lebih sulit sembuh dibandingkan jerawat biasa.

Jerawat Stres Bukan Mitos, Penjelasan Klinis dan Dampaknya

Penelitian dari University of Utah juga menunjukkan bahwa kulit memiliki reseptor hormon stres, yang berarti bahwa tekanan emosional bisa langsung memengaruhi kondisi kulit.
Ilustrasi jerawat karena stres (Istimewa)

Dr. Joshua Zeichner, direktur riset kosmetik dan klinis di Mount Sinai Hospital, menyebut bahwa lonjakan kortisol saat stres membuat kulit lebih rentan terhadap jerawat karena pori-pori mudah tersumbat dan respons inflamasi meningkat.

Penelitian dari University of Utah juga menunjukkan bahwa kulit memiliki reseptor hormon stres, yang berarti bahwa tekanan emosional bisa langsung memengaruhi kondisi kulit.

Selain memperparah jerawat, stres juga memperlambat proses penyembuhan luka di kulit, sehingga jerawat bertahan lebih lama dan meninggalkan bekas yang lebih sulit diatasi.

Tak hanya itu, stres juga memicu kebiasaan buruk seperti menyentuh wajah secara berulang, memencet jerawat, atau mengabaikan rutinitas perawatan kulit.

Kebiasaan ini memperburuk kondisi kulit dan memperbesar risiko infeksi. Jerawat akibat stres bisa makin parah jika tidak segera ditangani dengan pendekatan holistik, termasuk skincare yang tepat dan pengelolaan stres.

Cara Memahami dan Mengelola Jerawat yang Dipicu oleh Stres

Mengatasi jerawat stres tidak cukup hanya dengan produk topikal.
Ilustrasi jerawat karena stres (Istimewa)

Mengatasi jerawat stres tidak cukup hanya dengan produk topikal. Pemilihan skincare yang mengandung bahan aktif seperti salicylic acid, benzoyl peroxide, atau retinoid memang penting, tetapi harus dibarengi dengan gaya hidup sehat.

Dr. Nkem Ugonabo dari UnionDerm menyarankan penggunaan pelembap non-komedogenik agar kulit tetap terhidrasi tanpa menyumbat pori.

Selain itu, menjaga pola tidur, mengelola emosi, dan menghindari makanan tinggi gula atau lemak juga berperan besar dalam mencegah jerawat yang dipicu oleh stres.

Jerawat yang muncul saat stres bukanlah mitos, melainkan sinyal tubuh bahwa ada tekanan internal yang perlu diatasi. Dengan memahami mekanismenya, kita bisa lebih bijak dalam merawat kulit dan menjaga keseimbangan mental.

Previously

Gaya Simpel nan Stylish Davina Karamoy di Tengah Teriknya Dubai

Next

Penampilan Baru Dwayne Johnson Bikin Kaget, Otot Kempes dan Tubuh Lebih Ramping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement