Home Lifestyle Kalatara di Fashion Nation 2025: Tafsir Kontemporer Tenun Nusantara yang Menyeberangi Waktu
Lifestyle

Kalatara di Fashion Nation 2025: Tafsir Kontemporer Tenun Nusantara yang Menyeberangi Waktu

Kalatara hadir di Fashion Nation XIX sebagai interpretasi modern tenun Nusantara. Tiga desainer menampilkan koleksi kontemporer dari Sumba, Manggarai Barat, dan Kapuas Hulu.

Kalatara dalam Fashion Nation XIX di Senayan City (Instagram/senayancityjkt)

Showbizline – Perkumpulan Cita Tenun Indonesia (CTI) kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan wastra Nusantara melalui presentasi bertajuk Kalatara di ajang Fashion Nation XIX Edition yang digelar di Senayan City, Jakarta, pada 24 September 2025.

Kalatara, yang berasal dari akar kata Sansekerta “kala” (waktu) dan “tara” (menyeberangi), menjadi simbol perjalanan tenun dari ruang sakral tradisi menuju tafsir kontemporer yang dinamis dan relevan dengan gaya hidup masa kini.

CTI menghadirkan Kalatara sebagai ruang dialog antara warisan budaya dan inovasi mode, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap para penenun lokal yang telah menjaga tradisi ini lintas generasi.

Sebagai organisasi nirlaba yang telah aktif membina perajin tenun di 28 kabupaten/kota di 14 provinsi sejak 2008, CTI menggandeng tiga desainer ternama untuk menafsir ulang tenun dari tiga daerah berbeda.

Masing-masing koleksi menampilkan pendekatan desain yang unik, menggabungkan teknik pewarnaan alami, siluet modern, dan filosofi lokal yang memperkaya narasi visual.

Kalatara bukan sekadar peragaan busana, tetapi juga pernyataan budaya yang mengangkat tenun sebagai aksara visual yang hidup dan terus berkembang.

Alto Project: Napas Sumba dalam Siluet Edgy dan Warna Alam

Alto Project yang digawangi oleh Cynthia dan Abirama menampilkan koleksi bertajuk “Napas Sumba”.
Kalatara dalam Fashion Nation XIX di Senayan City (Instagram/senayancityjkt)

Membuka pergelaran Kalatara, Alto Project yang digawangi oleh Cynthia dan Abirama menampilkan koleksi bertajuk “Napas Sumba”. Koleksi ini mengeksplorasi Tenun Ikat dan Pahikung dari Sumba Timur dengan pendekatan desain unisex yang edgy.

Siluet yang ditampilkan memadukan denim tenun khas Alto dengan palet warna alam seperti indigo, terracotta, dan hijau savana. Desain mereka bertujuan menumbuhkan rasa bangga saat mengenakan tenun, dengan gaya yang eksploratif dan modern.

“Kami ingin orang mau pakai tenun dengan pride,” ujar Cynthia, menekankan bahwa tenun bisa tampil otentik tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

Amotsyamsurimuda: Ikatan yang Bertahan dari Manggarai Barat

Desainer Amot Syamsurimuda menghadirkan koleksi bertajuk “Ikatan yang Bertahan” yang mengolah Tenun Songket dari Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Kalatara dalam Fashion Nation XIX di Senayan City (Instagram/senayancityjkt)

Desainer Amot Syamsurimuda menghadirkan koleksi bertajuk “Ikatan yang Bertahan” yang mengolah Tenun Songket dari Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Koleksi ini mengedepankan tailoring modern, layering, dan proporsi oversized yang mencerminkan filosofi tenun sebagai simbol ikatan komunitas yang bertahan di tengah perubahan zaman.

Dengan estetika menswear urban, Amot ingin tenun bisa dikenakan oleh laki-laki dan perempuan dalam keseharian.

“Aku ingin membawa tenun-tenun ini bisa dipakai setiap hari,” ujarnya, menegaskan bahwa tenun bukan hanya untuk acara adat, tetapi juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup kontemporer.

Wilsen Willim: Tenun Iban sebagai Pusat Perhatian dalam Busana Modern

Wilsen Willim menampilkan interpretasi kreatif atas Tenun Putussibau khas Suku Iban dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Kalatara dalam Fashion Nation XIX di Senayan City (Instagram/senayancityjkt)

Sebagai penutup, Wilsen Willim menampilkan interpretasi kreatif atas Tenun Putussibau khas Suku Iban dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Koleksi bernuansa earthy dengan aksen rustic gold ini memadukan wastra dengan bahan suiting dan jacquard.

Alih-alih menggunakan ornamen mencolok, Wilsen memilih detail mutiara dan benang sederhana agar karakter tenun tetap menjadi pusat perhatian.

“Kali ini aku mencoba untuk menghindari materi-materi yang glamour,” ungkapnya, menekankan bahwa kekuatan tenun terletak pada narasi dan simbol spiritual yang terkandung di dalamnya.

Koleksi ini menjadi bukti bahwa tenun bisa tampil elegan dan modern tanpa kehilangan akar budaya.

Previously

Ginjal Bisa Rusak Diam-Diam karena Makanan dan Minuman Ini, Waspadai Sejak Dini

Next

Glamor di Media Sosial, Olla Ramlan Ungkap Pernah Tiga Kali Coba Bunuh Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement