Home Showbiz & Celebrity Alasan 28 Years Later Dianggap Sebagai Salah Satu Film Horor Terburuk 2025
Showbiz & Celebrity

Alasan 28 Years Later Dianggap Sebagai Salah Satu Film Horor Terburuk 2025

Film 28 Years Later dinilai sebagai salah satu film horor terburuk 2025 karena narasi yang tidak fokus dan ekspektasi tinggi yang gagal dipenuhi. Simak ulasan lengkap dan kritik dari pengamat film.

Film 28 Years Later (Istimewa)

SHOWBIZLINE – Film 28 Years Later seharusnya menjadi kelanjutan epik dari waralaba horor post-apocalyptic yang dimulai dengan 28 Days Later (2002) dan 28 Weeks Later (2007).

Dengan nama besar seperti Danny Boyle dan Alex Garland di balik layar, ekspektasi publik terhadap film ketiga ini sangat tinggi.

Namun, alih-alih menjadi penutup yang memuaskan, 28 Years Later justru menuai kritik tajam dan dianggap sebagai salah satu film horor terburuk tahun 2025 oleh sejumlah media dan pengamat film.

Kekecewaan terhadap film ini bukan hanya datang dari penggemar setia waralaba, tetapi juga dari kritikus yang menilai bahwa film tersebut gagal memenuhi standar naratif dan atmosfer yang telah dibangun oleh dua pendahulunya.

Alih-alih memperluas mitologi virus “rage” yang menjadi inti cerita, film ini justru terjebak dalam eksplorasi simbolik yang tidak terarah dan pencampuran genre yang membingungkan.

Narasi yang Terlalu Ambisius dan Tidak Fokus

Film 28 Years Later (Istimewa)
Film 28 Years Later (Istimewa)

Salah satu alasan utama mengapa 28 Years Later dianggap gagal adalah karena narasinya yang terlalu ambisius namun tidak fokus.

Film ini mencoba menggabungkan elemen satir sosial, folk horror khas Inggris, dan referensi sinematik seperti Apocalypse Now dan The Walking Dead, namun hasilnya justru membingungkan dan tidak koheren.

Ralph Fiennes, yang tampil sebagai karakter misterius, digambarkan berada di antara Daryl Dixon dan Marlon Brando, namun peran tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap alur cerita.

Alih-alih memperkuat ketegangan dan atmosfer horor, film ini justru tenggelam dalam dialog panjang yang tidak relevan dan visual yang tidak mendukung suasana.

Beberapa adegan bahkan dinilai terlalu lambat dan tidak memberikan kontribusi terhadap perkembangan karakter maupun konflik utama.

Hal ini membuat penonton merasa jenuh dan kehilangan keterikatan emosional terhadap tokoh-tokohnya.

Ekspektasi Tinggi yang Tidak Terpenuhi

Film 28 Years Later
Film 28 Years Later

Sebagai film yang telah dinanti selama lebih dari dua dekade, 28 Years Later membawa beban ekspektasi yang sangat besar.

Sayangnya, film ini gagal menjawab harapan tersebut. Menurut ulasan dari Mariviu, kombinasi Boyle dan Garland yang sebelumnya sukses justru tampak kehilangan arah dalam proyek ini.

Karakter utama seperti Spike dan Isla tidak memiliki kedalaman emosional yang cukup, sementara latar tempat seperti Pulau Holy yang seharusnya menjadi simbol isolasi dan ketegangan malah terasa datar dan tidak eksploratif.

Kritikus juga menyoroti bahwa film ini terlalu bergantung pada nostalgia dan tidak menawarkan inovasi berarti dalam genre zombie.

Ketika film horor lain seperti The Monkey berhasil memukau penonton dengan pendekatan segar terhadap materi Stephen King, 28 Years Later justru terjebak dalam formula lama yang tidak lagi relevan dengan perkembangan sinema horor modern.

Reaksi Penonton dan Posisi di Daftar Film Terburuk

Reaksi penonton terhadap 28 Years Later sangat beragam, namun mayoritas mengungkapkan kekecewaan mendalam.

Film ini bahkan menempati posisi teratas dalam daftar lima film horor terburuk tahun 2025 versi Bay Area News Group.

Banyak yang menyebut bahwa film ini adalah contoh nyata dari bagaimana ekspektasi tinggi bisa berujung pada kegagalan jika tidak diimbangi dengan eksekusi yang matang.

Kritik terhadap film ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut keputusan kreatif yang dinilai tidak sesuai dengan identitas waralaba.

Dengan reputasi yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade, kegagalan 28 Years Later menjadi pelajaran penting bagi industri film tentang pentingnya menjaga konsistensi naratif dan memahami ekspektasi audiens.

Previously

Gaya Mikha Tambayong di Gala Premiere 'Abadi Nan Jaya' Curi Perhatian

Next

Raisa dan Hamish Daud Akui Sepakat untuk Akhiri Pernikahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement