Home Beauty & Wellness Tren Neurocosmetics, Skincare yang Disebut Bisa Bikin Bahagia
Beauty & Wellness

Tren Neurocosmetics, Skincare yang Disebut Bisa Bikin Bahagia

Neurocosmetics jadi tren skincare terbaru yang diklaim bisa bikin bahagia. Temukan penjelasan ilmiah, kandungan populer, dan pentingnya edukasi konsumen dalam memilih produk perawatan kulit yang mendukung kesehatan mental.

Ilustrasi neurocosmetics (Istimewa)

SHOWBIZLINE – Sekarang ini, dunia kecantikan tidak hanya bicara soal kulit yang glowing atau bebas jerawat. Seperti munculnya tren baru bernama neurocosmetics—produk perawatan kulit yang diklaim mampu memengaruhi suasana hati dan memberikan efek menenangkan secara emosional.

Disebut juga sebagai ‘skincare untuk otak’, neurocosmetics menjadi bagian dari pergeseran industri kecantikan menuju pendekatan holistik yang menggabungkan kesehatan kulit dan kesejahteraan mental.

Tren ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan gaya hidup mindful.

Banyak brand kecantikan mulai mengembangkan produk yang tidak hanya memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga dirancang untuk memberikan efek relaksasi melalui aroma, tekstur, dan kandungan aktif yang bekerja pada sistem saraf kulit.

Dengan kata lain, neurocosmetics hadir sebagai jawaban atas kebutuhan konsumen modern yang mencari pengalaman skincare yang menyeluruh—baik secara fisik maupun emosional.

Apa Itu Neurocosmetics dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Neurocosmetics adalah produk perawatan kulit yang diformulasikan untuk berinteraksi dengan sistem saraf, baik melalui sentuhan, aroma, maupun bahan aktif yang dapat memengaruhi sinyal saraf di kulit.

Konsep ini berakar dari pemahaman tentang brain-skin axis, yaitu hubungan dua arah antara otak dan kulit.

Dr. Priya Verma, seorang dokter estetika, menjelaskan bahwa kulit dan otak berasal dari lapisan embrio yang sama, sehingga keduanya memiliki mekanisme biologis yang saling terhubung.

“Sumbu stres tubuh kita atau HPA axis yang biasanya bekerja di sistem saraf pusat juga ditemukan di kulit,” ujarnya.

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon kortisol yang dapat memicu peradangan dan menurunkan fungsi pelindung kulit.

Hal ini menjelaskan mengapa kondisi mental yang buruk sering kali berdampak langsung pada kesehatan kulit, seperti munculnya jerawat, eksim, atau rosacea.

Neurocosmetics mencoba memutus siklus ini dengan memberikan sinyal positif pada kulit, sehingga tidak hanya memperbaiki kondisi fisik, tetapi juga membantu menenangkan pikiran.

Kandungan Populer dan Efek Sensorik yang Menenangkan

Beberapa bahan aktif yang sering digunakan dalam produk neurocosmetics antara lain CBD, minyak esensial, ashwagandha, dan magnesium.

Bahan-bahan ini dikenal memiliki efek menenangkan dan anti-inflamasi, serta mampu merangsang produksi neurotransmitter seperti serotonin dan endorfin yang berperan dalam menciptakan rasa bahagia.

Elise Létang, direktur pemasaran dari brand Neurae milik grup Sisley, menyebut bahwa neurocosmetics dirancang untuk “mendukung sinyal baik dan mengurangi sinyal buruk” pada kulit, seperti kemerahan, iritasi, atau stres oksidatif.

Selain kandungan bahan aktif, pengalaman sensorik juga menjadi kunci dalam efektivitas neurocosmetics.

Aroma menenangkan, tekstur lembut, dan sensasi dingin saat aplikasi dapat memberikan efek relaksasi yang langsung terasa.

Dr. Anna Persaud, CEO dari brand This Works, menekankan bahwa pengalaman menggunakan skincare yang menyenangkan dapat memberikan dampak positif terhadap suasana hati, meski efeknya lebih bersifat psikologis daripada biologis.

Waspadai Klaim Berlebihan dan Pentingnya Edukasi Konsumen

Meski menjanjikan banyak manfaat, para ahli mengingatkan agar konsumen tetap kritis terhadap klaim neurocosmetics.

Anna Miller, seorang perawat dan wellness coach di The Ardour Clinic, menyebut bahwa banyak brand menggunakan istilah ilmiah seperti “happy cream” atau “calm serum” tanpa dukungan riset yang memadai.

Ia menekankan bahwa efek positif yang dirasakan pengguna sering kali berasal dari pengalaman sensorik, bukan dari interaksi langsung dengan sistem saraf pusat.

Karena itu, penting bagi konsumen untuk memahami bahwa neurocosmetics bukanlah solusi instan untuk masalah mental atau emosional.

Meski bisa menjadi pelengkap dalam rutinitas self-care, produk ini sebaiknya digunakan sebagai bagian dari pendekatan holistik yang mencakup pola hidup sehat, manajemen stres, dan perawatan kulit yang tepat.

Dengan edukasi yang tepat, tren neurocosmetics dapat menjadi langkah positif dalam menjembatani kecantikan dan kesejahteraan mental secara seimbang.

Previously

Aqeela Calista Borong 4 Piala SCTV Awards 2025, Bukti Eksistensi Aktris Muda Paling Bersinar

Next

Siap Cerai dari Hamish Daud, Raisa: Bukan Kami Menyerah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement