Mengetahui Kasus Junko Furuta yang Membuat Nessie Judge Dihujat Secara Internasional
Konten Halloween Nessie Judge yang menampilkan foto Junko Furuta memicu kecaman internasional. Simak kronologi kasus tragis Junko dan respons Nessie atas kontroversi yang menyentuh isu sensitif global.
SHOWBIZLINE – Nama Junko Furuta kembali mencuat ke permukaan setelah foto mendiang remaja Jepang itu muncul dalam konten Halloween YouTuber Nessie Judge.
Dalam video kolaborasi bersama grup K-Pop NCT Dream yang tayang awal November 2025, foto Junko dijadikan bagian dari dekorasi latar dengan mata ditutup garis hitam.
Aksi tersebut memicu kemarahan netizen Jepang dan internasional, yang menilai penggunaan foto korban kekerasan brutal sebagai ornamen horor sangat tidak sensitif dan tidak menghormati memori korban.
Gelombang kritik pun membanjiri kanal media sosial Nessie, hingga ia menghapus video dan menyampaikan permintaan maaf terbuka.
Kisah Tragis Junko Furuta

Kontroversi ini membuka kembali luka lama masyarakat Jepang atas tragedi yang menimpa Junko Furuta.
Ia adalah siswi SMA Yashio Minami yang diculik oleh sekelompok remaja laki-laki pada 25 November 1988.
Selama 40 hari, Junko mengalami penyiksaan fisik dan seksual yang sangat keji sebelum akhirnya ditemukan tewas dalam drum semen di Distrik Koto, Tokyo, pada 29 Maret 1989.
Identitasnya baru terungkap melalui pencocokan sidik jari dengan laporan orang hilang dari Prefektur Saitama.
Kasus ini dikenal sebagai salah satu kejahatan paling mengerikan dalam sejarah Jepang dan menjadi simbol trauma kolektif yang masih membekas hingga kini.
Junko Furuta: Simbol Trauma dan Ketidakadilan

Tragedi Junko Furuta bukan hanya soal kekerasan fisik, tetapi juga mencerminkan ketimpangan sistem hukum Jepang saat itu.
Para pelaku yang masih di bawah umur saat kejadian hanya menerima hukuman ringan, dan beberapa di antaranya bahkan kembali melakukan tindak kriminal setelah bebas.
Kisah Junko telah diangkat dalam berbagai dokumenter, artikel investigatif, dan forum diskusi sebagai contoh nyata kegagalan perlindungan terhadap korban.
Oleh karena itu, penggunaan foto Junko dalam konteks hiburan dianggap sangat melukai perasaan publik Jepang dan komunitas internasional yang peduli terhadap isu kekerasan terhadap perempuan.
Respons Nessie Judge dan Permintaan Maaf Terbuka

Setelah video tersebut viral dan menuai kecaman luas, Nessie Judge merilis pernyataan permintaan maaf melalui media sosial dan kanal YouTube-nya.
Ia mengakui kelalaiannya dalam memilih elemen visual untuk konten dan menyatakan bahwa tidak ada niat untuk menyinggung atau mengejek korban.
“Saya menyadari bahwa tindakan saya sangat tidak sensitif dan tidak menghormati korban. Saya mohon maaf sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang merasa tersakiti,” tulis Nessie dalam unggahan resminya.
Ia juga berjanji akan lebih berhati-hati dan berempati dalam membuat konten di masa mendatang. Permintaan maaf tersebut mendapat beragam respons dari publik.
Sebagian netizen menerima klarifikasi Nessie sebagai bentuk tanggung jawab, namun banyak pula yang menilai bahwa insiden ini seharusnya tidak terjadi jika kreator konten lebih memahami konteks budaya dan trauma historis.
Beberapa pengamat media menyebut bahwa kasus ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat konten digital untuk tidak hanya mengejar estetika atau sensasi, tetapi juga mempertimbangkan dampak emosional dan etis dari materi yang mereka tampilkan.















