Siapa HOS Tjokroaminoto? Pahlawan Nasional Berjuluk ‘Raja Jawa Tanpa Mahkota’, Kakek Buyut Al Ghazali
Al Ghazali ziarah ke makam HOS Tjokroaminoto di Hari Pahlawan 2025. Inilah silsilah keluarga Maia Estianty yang menghubungkan langsung ke sang “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.
SHOWBIZLINE – Momen khidmat terjadi saat Al Ghazali, putra sulung pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estianty, melakukan ziarah ke makam Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto pada Hari Pahlawan, 10 November 2025.
Ziarah tersebut berlangsung di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pekuncen, Yogyakarta, dan dibagikan melalui unggahan Instagram Al Ghazali.
Dalam foto yang ia unggah, Al tampak berada di samping pusara sang pahlawan nasional yang dikenal sebagai “Guru Bangsa”.
“Di setiap langkahku, aku membawa jejakmu — Eyang, H.O.S. Cokroaminoto, sang guru bangsa.
Terima kasih, Eyang atas api juang yang tak pernah padam dalam sejarah dan dalam diri kami,” tulis Al Ghazali.
Ziarah ini bukan sekadar penghormatan terhadap tokoh sejarah, tetapi juga bentuk refleksi pribadi karena HOS Tjokroaminoto merupakan kakek buyut dari pihak ibunya, Maia Estianty.
Momen tersebut mendapat banyak respons positif dari publik, yang mengapresiasi sikap nasionalis Al Ghazali dan kedekatannya dengan warisan sejarah keluarganya.
Silsilah Keluarga Al Ghazali dan HOS Tjokroaminoto
Silsilah keluarga Al Ghazali memiliki keterkaitan langsung dengan HOS Tjokroaminoto melalui garis keturunan Maia Estianty.
Ayah Maia, Harjono Sigit Bachroensalam, adalah putra dari Siti Oetari, yang merupakan anak kandung HOS Tjokroaminoto.
Dengan demikian, HOS Tjokroaminoto adalah kakek buyut dari Al Ghazali, menjadikannya bagian dari keluarga besar tokoh pergerakan nasional Indonesia.
HOS Tjokroaminoto sendiri dikenal sebagai pemimpin Sarekat Islam dan guru dari sejumlah tokoh besar seperti Soekarno, Semaoen, dan Kartosuwiryo.
Julukan “Raja Jawa Tanpa Mahkota” diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan masyarakat pribumi, meski ia tidak memiliki gelar bangsawan atau jabatan formal dalam pemerintahan.
Warisan Sejarah dan Refleksi Generasi Muda
Ziarah yang dilakukan Al Ghazali menjadi simbol penting bagaimana generasi muda dapat terhubung dengan sejarah bangsa melalui jalur keluarga.
Dalam unggahannya, Al menulis singkat “Ziarah ke makam Eyang,” yang kemudian di-repost oleh Maia Estianty dengan emoji hati, menunjukkan kebanggaan dan penghormatan terhadap leluhur mereka.
Kehadiran Al Ghazali di makam HOS Tjokroaminoto juga menjadi pengingat bahwa warisan perjuangan tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi penerus.
Sebagai figur publik, Al menunjukkan bahwa mengenang jasa pahlawan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana namun bermakna.
HOS Tjokroaminoto dan Julukan “Raja Jawa Tanpa Mahkota”
HOS Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, dan wafat pada 17 Desember 1934.
Ia dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur organisasi dan pendidikan politik.
Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam berkembang pesat dan menjadi wadah perjuangan rakyat melawan kolonialisme.
Julukan “Raja Jawa Tanpa Mahkota” mencerminkan pengaruh besar HOS Tjokroaminoto di kalangan rakyat, meski ia tidak memiliki gelar formal.
Ia dihormati karena kecerdasan, kepemimpinan, dan keberaniannya dalam menyuarakan aspirasi rakyat.
Warisan intelektual dan perjuangannya masih dikenang hingga kini, termasuk oleh keturunannya seperti Al Ghazali.















