Bapmericano: Tren Viral Asal Korea Campur Es Kopi dan Nasi, Akankah Jadi Kuliner Mainstream?
Tren unik Bapmericano dari Korea Selatan — campuran nasi panas dan es kopi Americano — kini viral di media sosial. Tapi akankah makanan eksperimental ini bertahan dan menjadi kuliner mainstream?
SHOWBIZLINE – Di dunia kuliner Korea yang selalu penuh kejutan, muncul satu tren baru yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi sekaligus penasaran, Bapmericano.
Sebuah sajian yang menggabungkan dua elemen paling khas dari budaya makan Korea modern — bap (nasi) dan Americano (kopi hitam dingin).
Sekilas, kombinasi ini terdengar absurd. Tapi di negeri yang pernah melahirkan tren dalgona coffee dan corn dog ramen, batas antara “aneh” dan “inovatif” memang kerap kabur.
Kini, publik bertanya-tanya: apakah Bapmericano hanya tren sesaat atau bakal menjadi bagian dari kuliner mainstream Korea?
Fenomena Bapmericano dan Asal Muasalnya
Nama “Bapmericano” berasal dari dua kata sederhana: bap (밥) yang berarti nasi, dan Americano, jenis kopi hitam dingin favorit orang Korea.
Tren ini muncul pertama kali di media sosial Korea sekitar Oktober 2024, saat beberapa kreator konten mencoba mencampurkan nasi panas ke dalam segelas kopi Americano dingin.
Reaksinya pun viral — bukan karena rasanya lezat, tapi karena kombinasi itu terasa “mustahil”.
Video-video pendek di TikTok memperlihatkan bagaimana mereka menuangkan es kopi ke mangkuk berisi nasi putih, mengaduknya perlahan, lalu mencicipinya dengan ekspresi antara jijik dan penasaran. Beberapa bahkan menambahkan komentar jenaka seperti:
“Rasanya seperti hidup orang dewasa — pahit dan hangat di waktu yang sama.”
Dalam waktu singkat, Bapmericano menjadi topik hangat di media sosial Korea, menyusul jejak tren-tren absurd lain seperti kimchi soda, ramen cokelat, dan pizza tteokbokki.
Budaya Kopi dan Nasi di Korea: Pertemuan Tradisi dan Modernitas
Untuk memahami kenapa tren ini bisa lahir, kita perlu melihat konteks budaya Korea.
Kopi, khususnya Americano, sudah menjadi bagian penting dari gaya hidup urban di sana.
Hampir di setiap sudut kota besar seperti Seoul atau Busan, ada kafe yang dipenuhi anak muda dengan gelas kopi di tangan — bahkan di musim dingin.
Sementara itu, nasi tetap menjadi simbol tradisi dan kenyamanan. Orang Korea tidak merasa “sudah makan” kalau belum makan nasi.
Karena itu, ide menggabungkan nasi dan kopi sebenarnya adalah bentuk ekstrem dari dua dunia yang berbeda — tradisional dan modern.
Bapmericano pun menjadi simbol kecil dari bagaimana generasi muda Korea mengeksplorasi identitas mereka: terbuka terhadap hal baru, tapi masih berakar pada budaya lama.
Rasa dan Reaksi Publik: Antara Jijik dan Penasaran
Bagaimana rasanya? Itu pertanyaan yang paling sering muncul. Beberapa yang mencoba mengatakan kalau rasa kopi pahit berpadu aneh dengan tekstur lembap nasi panas, menghasilkan sensasi “asing tapi tidak sepenuhnya buruk”. Ada yang membandingkannya dengan brown rice coffee yang pernah populer karena efek dietnya.
Namun, mayoritas warganet menilai Bapmericano lebih cocok disebut konten hiburan, bukan sajian kuliner.
Di forum daring seperti Naver dan Daum, komentar bermunculan, “Saya suka nasi dan kopi, tapi bukan di mulut yang sama.”
Sementara netizen lain memberikan komentar, “Ini lebih cocok buat tantangan TikTok, bukan menu restoran.”
Lucunya, justru karena keanehannya itu, Bapmericano menjadi magnet perhatian. Orang tidak benar-benar ingin menikmatinya, tapi ingin merasakan sensasi “ikut tren” — sebuah fenomena khas era digital.
Resonansi di Indonesia: Dari Lucu ke Eksperimen
Seperti banyak tren Korea lainnya, Bapmericano cepat sampai ke Indonesia. Konten “nasi campur kopi” mulai muncul di TikTok dan Instagram lokal, lengkap dengan reaksi jenaka dari food vlogger Indonesia.
Sebagian bilang rasanya “kayak nasi tumpah ke gelas Americano”, sebagian lagi justru menganggapnya unik dan tidak seburuk dugaan.
Bagi masyarakat Indonesia yang juga sangat lekat dengan budaya nasi, ide ini terasa nyeleneh tapi lucu.
Tidak sedikit netizen yang berkata, “Kalau orang Korea bisa, kenapa kita nggak coba kopi tubruk campur nasi Padang?”
Sebuah bentuk humor khas warganet yang menggoda rasa penasaran, tapi juga menunjukkan bahwa tren seperti ini lebih diterima sebagai hiburan daripada cita rasa serius.
Kenapa Sulit Jadi Kuliner Mainstream
Meski viral, banyak pengamat kuliner menilai Bapmericano hampir mustahil menjadi makanan mainstream. Ada tiga alasan utama:
Pertama, konflik rasa dan tekstur. Secara gastronomi, nasi panas dan kopi dingin punya karakter yang bertabrakan: gurih lembut versus pahit asam. Tidak ada harmoni yang bisa membuatnya bertahan di lidah.
Kedua, fungsi sosial makanan di Korea. Kopi biasanya diminum setelah makan sebagai penutup, bukan teman makan utama. Bapmericano melanggar urutan budaya makan yang sudah mendarah daging.
Ketiga, sifat viral yang temporer. Sebagian besar tren makanan Korea lahir dari dunia digital dan berumur pendek. Seperti dalgona coffee di masa pandemi, setelah rasa penasaran lewat, orang kembali ke kebiasaan normal mereka.
Lebih dari Sekadar Makanan, Cermin Gaya Hidup Digital
Meski kemungkinan besar tidak akan bertahan lama, Bapmericano tetap punya makna menarik.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana generasi muda Korea (dan dunia) memperlakukan makanan bukan hanya sebagai kebutuhan, tapi sebagai bentuk ekspresi diri dan hiburan.
Dalam budaya digital, rasa sering kali kalah penting dibanding reaksi. Orang ingin merekam ekspresi, membagikan pengalaman absurd, dan menertawakan hasilnya bersama.
Tren seperti ini juga menunjukkan bahwa batas antara tradisi dan modernitas semakin kabur. Bapmericano bukan hanya tentang nasi dan kopi, tapi tentang keberanian untuk bermain dengan hal yang dianggap “tidak mungkin”.
Ketika Pahit dan Hangat Bertemu
Akhirnya, mungkin Bapmericano tidak akan muncul di menu restoran mana pun, tapi ia sudah meninggalkan kesan mendalam di dunia maya.
Tren ini mengajarkan bahwa kreativitas bisa muncul dari hal yang paling sederhana, dan bahwa tidak semua eksperimen harus berujung sukses untuk tetap menarik.
Seperti kata seorang netizen Korea dalam salah satu komentar yang viral:
“Bapmericano tidak enak, tapi entah kenapa membuatku berpikir tentang hidup — kadang pahit, kadang hangat, dan tetap harus dijalani.”
Dan mungkin itulah kenapa Bapmericano menarik: karena di balik absurdnya, ada refleksi kecil tentang keberanian mencoba hal baru di dunia yang serba cepat ini.



















