K-Food Percepat Ekspansi, Rebut Pasar Halal Indonesia dengan Kontrak Rp238 Miliar
K-Food raih kontrak Rp 238 miliar di pasar halal Indonesia lewat SIAL INTERFOOD 2025. Baca strategi Korea menembus pasar dengan sertifikasi halal & data ekspor terbaru.
SHOWBIZLINE – Gelaran SIAL INTERFOOD Jakarta 2025 menjadi bukti nyata betapa pasar Indonesia menjadi primadona baru bagi produk-produk Korea Selatan.
Dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia bukan hanya target pasar, tetapi juga gerbang strategis menuju Asia Tenggara.
Dalam pameran makanan terbesar di Indonesia ini, K-Food tidak hanya memamerkan kelezatannya, tetapi juga menorehkan pencapaian gemilang.
Berkat strategi yang tepat dan fokus pada sertifikasi halal, industri makanan Korea berhasil meraup komitmen bisnis senilai 14,53 juta dolar AS atau setara dengan lebih dari Rp 238 miliar.
Langkah ini semakin mengukuhkan K-Food sebagai pemain serius di pasar kuliner Indonesia yang dinamis.
Pameran Terbesar, Panggung Strategis K-Food di Asia Tenggara

Pameran SIAL INTERFOOD 2025, yang merupakan penyelenggaraan ke-26, telah menjadi barometer tren makanan internasional di Indonesia.
Dengan partisipasi lebih dari 1.500 perusahaan dari 26 negara dan dikunjungi sekitar 90.000 orang, acara ini adalah pusat bisnis yang tidak bisa diabaikan.
Bagi Korea, yang diwakili oleh Kementerian Pertanian, Pangan, dan Pedesaan Korea serta Badan Pengembangan Perdagangan (aT), pameran ini adalah platform ideal untuk memamerkan diversifikasi produk K-Food sekaligus menjalin kemitraan strategis dengan para pelaku bisnis lokal.
Paviliun Korea, Memikat Hati dan Selera dengan Inovasi dan Interaksi
Keberhasilan K-Food tidak lepas dari presentasi yang impresif di Paviliun Korea Terpadu. Sebanyak 24 perusahaan eksportir unggulan dan tiga asosiasi produk memamerkan beragam produk, mulai dari kimchi, mi, saus, minuman, hingga teh.
Daya tarik utama paviliun ini adalah cooking show interaktif yang menampilkan delapan menu ikonik Korea, seperti bulgogi, kimchijeon, japchae, dan tteokbokki, yang dimasak oleh koki lokal.
Strategi ini terbukti jitu. Buku resep yang dibagikan secara gratis kepada pengunjung menuai respons sangat antusias, menciptakan engagement yang mendalam dan memudahkan buyer memahami aplikasi produk K-Food dalam cita rasa lokal.
Strategi Pasar Menjawab Tantangan dan Meraih Kepercayaan
Kunci kesuksesan lain terletak pada pendekatan strategis aT. Mereka tidak hanya mempertemukan eksportir Korea dengan buyer umum, tetapi juga secara proaktif mengundang perwakilan dari jaringan ritel nasional dan toko-toko daerah di Indonesia.
Pendekatan yang terarah ini memfasilitasi konsultasi bisnis yang nyata dan langsung berdampak.
Hasilnya sungguh luar biasa: tercapai 18 nota kesepahaman (MOU) dan kontrak langsung dengan total nilai 14,53 juta dolar AS.
Seorang buyer dari FoodHall, ritel premium ternama di Indonesia, mengonfirmasi tren ini, “Beberapa toko lokal dengan jaringan nasional cenderung meningkatkan proporsi produk makanan Korea.”
Hal ini menunjukkan bahwa K-Food telah berhasil menembus rak-rak ritel modern Indonesia.
Masa Depan K-Food, Fokus pada Regulasi dan Stabilitas Pasar
Indonesia adalah pasar yang menjanjikan namun penuh tantangan. Direktur Ekspor Makanan aT, Jeon Ki-chan, menegaskan komitmennya,
“Indonesia merupakan pasar ekspor utama yang membutuhkan pendekatan strategis… ditambah dengan perubahan cepat dalam regulasi terkait makanan, termasuk kewajiban sertifikasi halal.”
Komitmen ini didukung oleh data ekspor yang positif. Hingga Oktober 2025, ekspor K-Food ke Indonesia mencapai 203 juta dolar AS, dengan pertumbuhan yang signifikan pada produk-produk kunci seperti mi instan (naik 62,9%), soju (naik 13.4%), dan kimchi (naik 23.6%).
Angka ini membuktikan bahwa strategi ofensif K-Food di pasar halal terbesar dunia telah berada di jalur yang tepat, membuka jalan bagi ekspansi yang lebih masif ke berbagai kota di Indonesia.




















