Home Trending Tren Rebusan dan Kukusan, Kenali Tanda Makanan Sudah Tak Layak Konsumsi
Trending

Tren Rebusan dan Kukusan, Kenali Tanda Makanan Sudah Tak Layak Konsumsi

Tren makanan rebusan dan kukusan tengah digemari Gen Z karena dianggap lebih sehat. Namun, penting mengenali tanda-tanda ketika makanan tersebut sudah tidak layak konsumsi agar terhindar dari risiko keracunan.

Makanan rebusan dan kukusan (Istimewa)

SHOWBIZLINE – Belakangan ini, makanan rebusan dan kukusan seperti ubi, singkong, serta kentang semakin populer di kalangan anak muda, khususnya Gen Z.

Hidangan ini dianggap lebih sehat dibanding gorengan karena rendah lemak dan mampu mempertahankan nutrisi alami.

Tren sarapan dengan menu rebus-rebusan bahkan ramai dibagikan di media sosial sebagai gaya hidup sehat yang praktis.

Meski menyehatkan, makanan rebusan dan kukusan ternyata lebih cepat basi dibanding gorengan. Hal ini disebabkan kadar air yang tinggi sehingga memudahkan bakteri, jamur, atau ragi berkembang biak.

Menurut spesialis gizi klinik, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, minyak pada gorengan berfungsi sebagai pengawet alami yang mengurangi kadar air, berbeda dengan kukusan yang lebih rentan terkontaminasi.

Tanda-Tanda Makanan Rebusan dan Kukusan Sudah Basi

Pembusukan pada umbi-umbian kukus biasanya muncul dalam 1–3 hari jika disimpan di suhu ruang, atau bisa bertahan lebih lama bila disimpan di kulkas.

Dr Ardian mengingatkan agar tidak mengonsumsi makanan rebusan maupun kukusan jika sudah menunjukkan gejala tertentu.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain munculnya lendir, perubahan warna, aroma asam atau bau tidak sedap, serta tekstur yang menjadi lembek berlebihan.

Kondisi ini bisa menandakan adanya kontaminasi bakteri berbahaya seperti Salmonella atau E. coli yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan.

Risiko Mengonsumsi Makanan yang Sudah Tidak Layak

Keracunan makanan akibat mengonsumsi rebusan atau kukusan yang basi dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, diare, hingga demam.

Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem imun lemah. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan cara penyimpanan makanan.

Menyimpan rebusan di wadah tertutup dan segera memasukkannya ke kulkas setelah dingin bisa memperpanjang masa konsumsi.

Tren Sehat yang Perlu Diimbangi dengan Kehati-hatian

Fenomena rebusan dan kukusan sebagai menu sehat memang patut diapresiasi. Dibanding nasi uduk atau lontong yang tinggi kalori, menu rebus lebih ramah bagi mereka yang ingin menjaga berat badan.

Namun, kesadaran akan tanda-tanda makanan basi juga harus ditingkatkan agar tren sehat ini tidak berujung pada masalah kesehatan.

Edukasi mengenai cara penyimpanan dan batas waktu konsumsi menjadi kunci agar masyarakat tetap bisa menikmati manfaat makanan rebusan dan kukusan tanpa risiko.

Previously

Mengenal Tinandrose, Penulis Bercadar yang Kini Jadi Istri Fiki Naki

Next

Cerita Adegan Paling Penting di Film Agak Laen 2, Bikin Penonton Loncat dari Kursi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Showbizline
advertisement
advertisement