Kadar Leukosit Tinggi di Urine, Pertanda Penyakit Apa?
Kadar leukosit tinggi dalam urine bisa menjadi tanda infeksi saluran kemih hingga penyakit serius lain. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab, gejala, dan faktor risiko leukositosis.
SHOWBIZLINE – Leukosit atau sel darah putih berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Kehadirannya membantu melawan infeksi dan menjaga tubuh dari serangan penyakit.
Namun, ketika kadar leukosit ditemukan tinggi dalam urine, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.
Tingginya jumlah leukosit bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan yang memerlukan perhatian medis.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai leukositosis. Biasanya, leukosit tinggi muncul sebagai respons tubuh terhadap infeksi, peradangan, atau stres.
Meski sering kali berkaitan dengan penyakit ringan, kadar leukosit yang sangat tinggi juga dapat mengindikasikan gangguan serius seperti leukemia atau penyakit autoimun.
Infeksi Saluran Kemih dan Kandung Kemih
Salah satu penyebab paling umum dari leukosit tinggi dalam urine adalah infeksi saluran kemih (ISK). Infeksi ini terjadi ketika bakteri masuk ke saluran kemih dan berkembang biak, menyebabkan peradangan.
Pada ibu hamil, kondisi ini bisa lebih berisiko karena dapat memicu komplikasi serius. Gejala yang biasanya menyertai ISK meliputi nyeri saat buang air kecil, demam, dan urine berbau menyengat.
Jenis Leukositosis dan Penyebabnya
Leukositosis dapat dibagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan sel darah putih yang dominan. Neutrofilia misalnya, sering disebabkan oleh infeksi bakteri, peradangan kronis, atau efek obat tertentu seperti steroid.
Limfositosis biasanya terkait dengan infeksi virus, batuk rejan, atau reaksi alergi. Eosinofilia muncul akibat alergi, asma, atau infeksi parasit.
Sementara Monositosis dapat dipicu oleh tuberkulosis, jamur, atau penyakit autoimun seperti lupus. Ada pula Basofilia yang sering dikaitkan dengan leukemia atau kanker sumsum tulang.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Kadar leukosit tinggi bisa menyebabkan darah menjadi lebih kental sehingga alirannya terganggu. Kondisi ini dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, gangguan penglihatan, hingga masalah pernapasan.
Gejala lain yang sering muncul antara lain demam, penurunan berat badan, mudah memar, hingga keringat malam.
Pada kasus reaksi alergi, penderita bisa mengalami gatal-gatal, ruam kulit, atau sesak napas.
Pencegahan dan Gaya Hidup Sehat
Cara terbaik untuk mencegah leukositosis adalah dengan menjaga gaya hidup sehat. Rutin mencuci tangan, menghindari paparan alergen, berhenti merokok, serta mengelola stres dapat membantu menurunkan risiko.
Jika sedang menjalani pengobatan untuk peradangan, penting untuk mengikuti arahan dokter agar kondisi tidak semakin parah.
Pemeriksaan kesehatan rutin juga sangat dianjurkan untuk mendeteksi dini adanya kelainan pada kadar leukosit.



















