Tragedi Siswa SD di Ngada NTT, Psikolog Jelaskan Pemahaman Anak tentang Kematian
Tragedi siswa SD di Ngada memicu perhatian publik. Psikolog menjelaskan bagaimana pemahaman anak usia 10 tahun tentang kematian berkembang secara kognitif.
SHOWBIZLINE – Publik dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Bocah berusia 10 tahun tersebut diduga mengakhiri hidupnya setelah permintaannya untuk dibelikan alat tulis sekolah tidak dipenuhi oleh sang ibu, yang diketahui tengah menghadapi kondisi ekonomi sulit.
Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam sekaligus memicu keprihatinan luas. Tidak sedikit masyarakat yang mempertanyakan bagaimana kondisi mental seorang anak di usia tersebut, serta sejauh mana pemahaman anak terhadap konsep kematian.
Pertanyaan ini menjadi penting mengingat anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan kognitif dan emosional yang belum matang sepenuhnya.
Tahap Pemahaman Anak terhadap Kematian
Psikolog klinis Anna Surti Ariani, yang akrab disapa Nina, menjelaskan bahwa pemahaman anak tentang kematian berkembang secara bertahap seiring pertumbuhan usia dan kemampuan kognitif. Dalam penjelasannya, Nina membagi pemahaman tersebut ke dalam beberapa fase.
Pada anak usia 2 hingga 7 tahun, konsep kematian belum dipahami sebagai sesuatu yang bersifat final. Anak di usia ini cenderung melihat kematian sebagai kondisi sementara yang bisa dibalikkan.
“Yang mereka pahami, kematian itu bisa balik lagi. Misalkan ada orang meninggal, kalau dipanggil itu bisa bangun lagi karena pemahaman kognitifnya berbeda,” jelas Nina, dikutip Detik, Kamis (4/1/2026).
Pemahaman ini dipengaruhi oleh cara berpikir magis yang masih dominan pada usia dini, di mana anak belum mampu membedakan secara jelas antara realitas dan imajinasi.
Pemahaman Anak Usia 7–12 Tahun Masih Rancu
Memasuki rentang usia 7 hingga 12 tahun, anak mulai memahami bahwa kematian bersifat permanen bagi orang lain.
Namun, ketika konsep tersebut dikaitkan dengan dirinya sendiri, pemahaman anak masih belum utuh.
“Ketika dia memahami kematian pada dirinya, dia mengira setelah mati itu dia masih bisa melakukan banyak hal lagi. Jadi, tidak betul-betul menyadari bahwa kalau sudah mati, tidak bisa hidup lagi,” ujar Nina.
Dalam fase ini, anak bisa memahami kematian secara teoritis, tetapi belum sepenuhnya mampu memproses konsekuensi permanen dari kematian terhadap dirinya sendiri.
Kondisi inilah yang membuat anak rentan mengambil keputusan berisiko saat berada dalam tekanan emosional yang berat.
Kesadaran Penuh Baru Terbentuk di Usia Remaja
Menurut Nina, pemahaman yang benar-benar matang tentang kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali umumnya baru terbentuk ketika anak memasuki usia remaja, yakni di atas 12 tahun. Pada tahap ini, kemampuan berpikir abstrak dan kesadaran diri sudah berkembang lebih baik.
Remaja mulai mampu memahami dampak jangka panjang dari suatu tindakan, termasuk kematian, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Oleh sebab itu, kasus pada anak usia sekolah dasar sering kali tidak dapat dipahami dengan kacamata orang dewasa.
Peran Penting Hubungan Emosional Orang Tua dan Anak
Nina menekankan bahwa ketidakpahaman anak terhadap sifat permanen kematian membuat peran orang tua menjadi sangat krusial.
Anak yang merasa tertekan, kecewa, atau tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan berisiko mengalami beban emosional yang tidak tersalurkan dengan baik.
Ia menegaskan pentingnya membangun hubungan yang hangat dan terbuka antara orang tua dan anak. Hubungan ini memungkinkan anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
“Supaya anak-anak tidak mendapat pandangan yang tidak tepat tentang kematian itu. Dan supaya juga mereka merasa punya tempat untuk berbagi cerita tanpa merasa dihakimi,” pungkas Nina.



















